Sabtu, 01 Maret 2014

PEMBELAJARAN TORAH: AXIOMA, PENAFSIRAN DAN IMPLIKASI (berdasarkan dogma kristen)

Tehillim 1: 2 & 3
 “Tetapi yang kesukaannya ialah Torah Adonay[1], dan yang merenungkan Torah itu siang dan malam. Dia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.”

Pendahuluan
Di dunia ini, pada umumnya, ada tiga kitab suci besar yang dijunjung oleh umat manusia. Berdasarkan urutan penulisannya, mereka adalah Torah, Injil, dan Al-quran. Dua dari tiga kitab suci tersebut secara logis dan konseptual merupakan kesatuan. Mereka adalah Torah dan Injil. Saya mengibaratkan Torah adalah soal ujian dan Injil adalah kunci jawaban atas soal tersebut. Makna lain, yang mungkin lebih tepat, Torah adalah representasi mengenai apa yang akan terjadi di masa depan, yang tentunya masih sangat jauh. Sebagai contoh, Torah mengatur bagaimana proses pendamaian (penebusan dosa) antara manusia dan Adonay dilakukan dengan cara mengorbankan binatang mamalia atau burung, padahal pengorbanan binatang tidak mendamaikan manusia dengan Adonay. Proses pendamaian hanya bisa dilakukan oleh kematian Adonay sendiri. Namun, pengorbanan binatang adalah sebuah simbol yang bermakna bahwa dosa mengakibatkan kematian, agar manusia bisa tetap hidup, kehidupan harus dikorbankan, sebagai ganti kematian manusia. Injil telah menjawab representasi tersebut melalui kelahiran Yeshua Hamashiah. Tulisan ini akan menjelaskan lebih rinci, dalam bagian penafsiran, logika mengapa Adonay menjadi manusia dan mati.
            Bagian pertama tulisan ini adalah menjelaskan alasan mengapa Torah sangat penting untuk dipelajari secara mendalam. Sebelum mempelajari Torah, pembaca harus memiliki axioma sebagai modal untuk dapat memaknai pesan yang terkandung di dalam Torah. Setelah memiliki modal untuk memaknai isi Torah, pembaca dapat melakukan penafsiran atas simbol-simbol atau teka-teki yang terkandung di dalamnya. Jika penafsiran dapat dilakukan, maka implikasi secara automatis dapat dipetik oleh pembaca. Bagian terakhir tulisan ini adalah menyimpulkan implikasi, sehingga pembaca dapat memahami hakikat manusia sebagai hamba Adonay, apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya, mengapa harus melakukannya. Dengan demikian, saya dan Saudara hidup berkenan di hadapan Adonay.

Alasan mengapa Torah harus dipelajari
Torah merupakan kitab suci pertama di muka bumi, kemudian diikuti oleh Injil dan Al-quran. Ada empat alasan mendasar mengapa Torah harus dipilih sebagai kitab suci Saudara dan sekaligus mengapa ia harus dipelajari dengan sangat saksama, yakni: (1) Torah ditulis dengan sistem pengendalian internal (Internal Control System) yang sangat efektif, (2) Torah merupakan kitab suci pertama di muka bumi, (3) Torah memaparkan secara obyektif kehidupan manusia, dan (4) Torah berguna sebagai pedoman hidup manusia.
            Torah ditulis dengan sistem pengendalian internal yang sangat efektif. Sistem pengendalian internal adalah sebuah perekayasaan sistem yang dirancang agar fungsi, proses, dan aktivitas berjalan sesuai dengan tujuan yang dikehendaki, tanpa penyimpangan baik disengaja maupun tidak disengaja. Di dalam organisasi, sistem pengendalian internal dirancang oleh sekelompok orang yang memimpin organisasi tersebut. Demikian pula sistem pengendalian internal atas proses penulisan Torah. Ia dirancang oleh Adonay, Elohiym, pencipta langit dan bumi, serta segala isinya. Dengan demikian, kitab suci Torah bebas dari kesalahan penulisan, kepalsuan, pengurangan, dan penambahan oleh penulis.
            Bukti mengenai keefektifan sistem pengendalian internal atas proses penulisan Torah diperoleh melalui pengamatan bahwa bangsa Yahudi sangat menjunjung tinggi kesakralan kitab suci itu sendiri dan segala material di dalam peribadatan. Sebagai contoh, tabut Adonay hanya boleh disentuh oleh para imam, jika orang awam menyentuhNya, maka dia akan mati. Contoh lain, Tulisan Torah pada gulungan kitab dari kulit tidak boleh disentuh oleh tangan, Umat Yahudi menggunakan alat penunjuk untuk menyentuh huruf-huruf tersebut. Sebagai tambahan, penyalin Torah harus membersihkan seluruh tubuhnya terlebih dulu, tentunya disertai dengan ritual penyucian, sebelum menulis tetragramaton. Jika tidak demikian, maka mereka akan mati oleh karena tulah.
            Dari ke-tiga kitab suci yang telah disebutkan di atas, Torah merupakan kitab pertama. Dengan demikian, secara sistematis, setiap orang harus memulai pembelajaran kitab suci dengan mempelajari Torah. Di dalam Torah disingkapkan asal usul terbentuknya langit dan bumi serta segala isinya, penciptaan manusia, bagaimana manusia yang awalnya merupakan hamba Adonay kemudian secara struktural menjadi sama seperti Adonay, mengapa manusia menjadi berdosa, mengapa binatang menjadi korban untuk pendamaian antara Adonay dan manusia. Injil tidak menjelaskan semua ini, ia hanya menjawab apa yang sudah menjadi teka-teki, simbol, yang selalu digunakan di dalam Torah. Demikian pula halnya dengan Al-quran.
            Torah menceritakan secara obyektif kehidupan manusia baik kebaikan maupun kejahatan. Sejak kejatuhan pertama manusia ke dalam dosa, Torah menjelaskan secara implisit bahwa di dalam dunia ini berlaku hukum konsekuensi logis. Jika manusia melakukan perbuatan baik di mata Adonay, maka dia menerima upahnya, begitu pun sebaliknya, jika manusia melakukan kejahatan, maka dia mendapat hukuman. Dengan demikian, pembaca dapat memetik pelajaran, keputusan apa yang akan mereka buat, melakukan yang baik bagi Adonay atau yang jahat, karena konsekuensi logis setiap perbuatan telah dicontohkan melalui kehidupan tokoh-tokoh di dalam Torah.
            Berdasarkan tiga alasan sebelumnya, Torah layak untuk dijadikan pedoman hidup umat manusia. Keefektifan sistem pengendalian internal atas proses penulisan Torah menjamin kredibilitas informasi yang terkandung dalam Torah, kebenaran firman Adonay menjamin keterandalan informasi di dalamnya. Keterandalan berarti informasi di dalam Torah dapat diverifikasi dan divalidasi serta diuji kebenarannya. Firman Adonay yang bersifat kekal menjamin keberpautan informasi tersebut. Keberpautan artinya segala informasi di dalam Torah dapat terjadi dulu, kemarin, sekarang, besok, dan sampai selama-lamanya. Tidak ada kitab suci lain yang memiliki sistem pengendalian internal seefektif Torah, sehingga tidak ada kitab lain yang berisi informasi sekredibel, seandal, dan seberpaut Torah. Dengan demikian, hanya Torahlah yang layak untuk dijadikan pedoman hidup umat manusia.

Axioma
Axioma adalah pernyataan berterima umum (generally accepted statement). Untuk dapat memahami Torah yang rumit, penuh teka-teki, simbol-simbol, pembaca harus terlebih dulu memiliki panduan yang berguna sebagai modal dalam proses pembelajaran Torah. Sesuai dengan sebutannya, pernyataan berterima umum, axioma tidak memerlukan pembuktian kebenaran karena setiap orang, dengan akal sehat, akan berpikir bahwa ia benar. Axioma-axioma tersebut adalah (1) berdoa sebelum membaca, (2) sebagian besar Torah berisi simbol, (3) Torah ditulis dengan bahasa konseptual; bukan teknis, (4) ada alasan logik dalam setiap perintah, peraturan, larangan, simbol serta segala firman yang dikatakan oleh Adonay, dan (5) firman Adonay bersifat kekal.
            Torah ditulis oleh karena (1) wahyu dari Adonay kepada penulis dan (2) kepandaian penulis dan pengetahuannya tentang tulisan. Oleh karena itu, untuk mencerna setiap tulisan Torah, pembaca harus memenuhi ke-dua syarat tersebut. Syarat pertama didapati melalui permohonan secara langsung kepada Adonay sebagai penyingkap segala yang terselubung. Kemudian, kepandaian dan pengetahuan tentang tulisan dapat diperoleh melalui pembelajaran secara formal (sekolah).
            Sebagian besar isi Torah menggunakan simbol di dalam penjelasannya. Oleh karena itu, pembaca tidak dapat mencerna tulisan secara hurufiah, karena Saudara sangat mungkin salah dalam menafsir tulisan tersebut. Untuk memahami arti simbol, atau berbagai ibarat, pembaca harus memiliki kemampuan berpikir analitis.
            Torah ditulis dengan bahasa konseptual; bukan teknis. Karena Torah merupakan firman Adonay, Elohiym, pencipta langit dan bumi, serta segala isinya yang disampaikan kepada penulis melalui wahyu, gaya penuilsannya tingkat tinggi, sesuai dengan keluarbiasaan kepandaian yang melekat pada Adonay, Elohiym, pencipta langit dan bumi serta segala isinya. Dengan demikian, pembaca dituntut untuk memiliki modal dasar, yakni kepandaian agar dapat memahami bahasa konseptual tersebut. Ada dua alasan mendasar mengapa gaya penulisan Torah tidak bersifat teknis: (1) karena Torah kitab suci; bukan novel dan (2) karena gaya penulisan teknis tidak efisien, padahal efisiensi merupakan tuntutan dalam penulisan ilmiah.
            Oleh karena kesangatpandaian Adonay, setiap perintah, peraturan, larangan, simbol serta segala firman yang dikatakan Adonay pasti beralasan dan bermakna. Oleh karena itu, pembaca harus berpikir keras untuk memahami alasan setiap perintah, peraturan, larangan, simbol serta segala firman yang dikatakan oleh Adonay agar pembaca dapat memahami maksud dan tujuan Adonay. Dengan demikian, pembaca menjalani hidup yang sesuai dengan kehendakNya.
            Firman Adonay bersifat kekal. Oleh karena itu, pembaca, pada saat mempelajari Torah, harus yakin bahwa firman Adonay tersebut tetap berlaku bagi semua manusia di masa sekarang dan bahkan di masa mendatang.

Penafsiran dan Implikasi
Bereshith pasal Satu
Kutipan
Tafsiran
Landasan Argumen
Implikasi
Roh Elohiym melayang-layang di atas permukaan air
Penciptaan langit dan bumi adalah proyek Elohiym.
Air adalah bahan baku (raw materials) langit dan bumi.
Roh Elohiym bersifat maha kudus.
Roh Elohiym menguduskan bahan baku: air.
Ayat 1


Ayat 6



Terminologi “Roh Kudus” pada kenaikan Yeshua Hamashiah ke surga
Sebelum memulai pekerjaan, kita harus menahirkan bahan baku terlebih dulu. Bahan baku bisa apa saja, termasuk tubuh kita.
Berfirmanlah Elohiym: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.
Tahap pertama pekerjaan Elohiym adalah menciptakan terang.
Pekerjaan hanya dapat dilakukan dalam tempat yang terang.
Terang adalah salah satu karakteristik Elohiym.
Terang merepresentasi Elohiym.
Ayat 3





Kita dapat melakukan pekerjaan dalam tempat terang. Terang adalah Elohiym. Dengan demikian, kita harus tinggal di dalam Elohiym, agar pekerjaan kita berhasil.
Elohiym melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkanNyalah terang itu dari gelap
Terang tidak dapat bersatu dengan gelap. Elohiym tidak dapat bersatu dengan nonElohiym.

Jika kita tinggal di dalam Elohiym, maka kita harus dengan segenap hati mengikutiNya. Kita tidak dapat memilih keduanya: terang dan gelap; melainkan hanya salah satu: Elohiym atau nonElohiym.
Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama
Penulis membagi proses penciptaan langit dan bumi serta segala isinya menjadi enam hari sebagai sistematika penjelasan, agar keterpahamiannya terjangkau.
Ilmuwan menemukan bukti bahwa proses penciptaan langit dan bumi serta segala isinya terjadi selama ribuan, ratusan ribu bahkan jutaan tahun.
Sebagaimana Elohiym bekerja secara logis, terstruktur, dan terorganisasi dalam pekerjaanNya, demikian pulalah kita mengorganisasikan pekerjaan kita secara sistematik.
Berfirmanlah Elohiym: “Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.”
...(bersambung)
...(bersambung)
...(bersambung)




[1] Penulis menggunakan kata “Adonay” alih-alih “TUHAN”, karena nama Elohiym tidak perlu diterjemahkan.

Tidak ada komentar: