PEMBELAJARAN TORAH: AXIOMA,
PENAFSIRAN DAN IMPLIKASI (berdasarkan dogma kristen)
Tehillim 1: 2 & 3
“Tetapi
yang kesukaannya ialah Torah Adonay[1],
dan yang merenungkan Torah itu siang dan malam. Dia seperti pohon, yang ditanam
di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak
layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.”
Pendahuluan
Di dunia ini, pada umumnya,
ada tiga kitab suci besar yang dijunjung oleh umat manusia. Berdasarkan urutan
penulisannya, mereka adalah Torah, Injil, dan Al-quran. Dua dari tiga kitab
suci tersebut secara logis dan konseptual merupakan kesatuan. Mereka adalah
Torah dan Injil. Saya mengibaratkan Torah adalah soal ujian dan Injil adalah
kunci jawaban atas soal tersebut. Makna lain, yang mungkin lebih tepat, Torah
adalah representasi mengenai apa yang akan terjadi di masa depan, yang tentunya
masih sangat jauh. Sebagai contoh, Torah mengatur bagaimana proses pendamaian
(penebusan dosa) antara manusia dan Adonay
dilakukan dengan cara mengorbankan binatang mamalia atau
burung, padahal pengorbanan binatang tidak mendamaikan manusia dengan Adonay. Proses pendamaian hanya
bisa dilakukan oleh kematian Adonay
sendiri. Namun, pengorbanan binatang adalah sebuah simbol yang bermakna bahwa
dosa mengakibatkan kematian, agar manusia bisa tetap hidup, kehidupan harus
dikorbankan, sebagai ganti kematian manusia. Injil telah menjawab representasi
tersebut melalui kelahiran Yeshua Hamashiah. Tulisan ini akan menjelaskan lebih rinci, dalam bagian
penafsiran, logika mengapa Adonay
menjadi manusia dan mati.
Bagian pertama tulisan ini adalah menjelaskan alasan
mengapa Torah sangat penting untuk dipelajari secara mendalam. Sebelum mempelajari
Torah, pembaca harus memiliki axioma sebagai modal untuk dapat memaknai pesan
yang terkandung di dalam Torah. Setelah memiliki modal untuk memaknai isi
Torah, pembaca dapat melakukan penafsiran atas simbol-simbol atau teka-teki
yang terkandung di dalamnya. Jika penafsiran dapat dilakukan, maka implikasi
secara automatis dapat dipetik oleh pembaca. Bagian terakhir tulisan ini adalah
menyimpulkan implikasi, sehingga pembaca dapat memahami hakikat manusia sebagai
hamba Adonay,
apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya, mengapa harus melakukannya.
Dengan demikian, saya dan Saudara hidup berkenan di hadapan Adonay.
Alasan
mengapa Torah harus dipelajari
Torah merupakan kitab suci
pertama di muka bumi, kemudian diikuti oleh Injil dan Al-quran. Ada empat
alasan mendasar mengapa Torah harus dipilih sebagai kitab suci Saudara dan
sekaligus mengapa ia harus dipelajari dengan sangat saksama, yakni: (1) Torah
ditulis dengan sistem pengendalian internal (Internal Control System) yang sangat efektif, (2) Torah merupakan kitab
suci pertama di muka bumi, (3) Torah memaparkan secara obyektif kehidupan
manusia, dan (4) Torah berguna sebagai pedoman hidup manusia.
Torah ditulis
dengan sistem pengendalian internal yang sangat efektif. Sistem
pengendalian internal adalah sebuah perekayasaan sistem yang dirancang agar
fungsi, proses, dan aktivitas berjalan sesuai dengan tujuan yang dikehendaki,
tanpa penyimpangan baik disengaja maupun tidak disengaja. Di dalam organisasi,
sistem pengendalian internal dirancang oleh sekelompok orang yang memimpin
organisasi tersebut. Demikian pula sistem pengendalian internal atas proses
penulisan Torah. Ia dirancang oleh Adonay,
Elohiym, pencipta langit dan bumi, serta segala isinya. Dengan demikian, kitab
suci Torah bebas dari kesalahan penulisan, kepalsuan, pengurangan, dan
penambahan oleh penulis.
Bukti mengenai keefektifan sistem pengendalian internal
atas proses penulisan Torah diperoleh melalui pengamatan bahwa bangsa Yahudi
sangat menjunjung tinggi kesakralan kitab suci itu sendiri dan segala material
di dalam peribadatan. Sebagai contoh, tabut Adonay hanya boleh disentuh oleh para imam,
jika orang awam menyentuhNya, maka dia akan mati. Contoh lain, Tulisan Torah
pada gulungan kitab dari kulit tidak boleh disentuh oleh tangan, Umat Yahudi
menggunakan alat penunjuk untuk menyentuh huruf-huruf tersebut. Sebagai
tambahan, penyalin Torah harus membersihkan seluruh tubuhnya terlebih dulu,
tentunya disertai dengan ritual penyucian, sebelum menulis tetragramaton. Jika tidak demikian, maka
mereka akan mati oleh karena tulah.
Dari ke-tiga kitab suci yang telah disebutkan di atas, Torah merupakan kitab pertama. Dengan
demikian, secara sistematis, setiap orang harus memulai pembelajaran kitab suci
dengan mempelajari Torah. Di dalam Torah disingkapkan asal usul terbentuknya
langit dan bumi serta segala isinya, penciptaan manusia, bagaimana manusia yang
awalnya merupakan hamba Adonay
kemudian secara struktural menjadi sama seperti Adonay, mengapa manusia menjadi berdosa,
mengapa binatang menjadi korban untuk pendamaian antara Adonay dan manusia. Injil tidak
menjelaskan semua ini, ia hanya menjawab apa yang sudah menjadi teka-teki, simbol,
yang selalu digunakan di dalam Torah. Demikian pula halnya dengan Al-quran.
Torah menceritakan
secara obyektif kehidupan manusia baik kebaikan maupun kejahatan. Sejak
kejatuhan pertama manusia ke dalam dosa, Torah menjelaskan secara implisit
bahwa di dalam dunia ini berlaku hukum konsekuensi logis. Jika manusia
melakukan perbuatan baik di mata Adonay,
maka dia menerima upahnya, begitu pun sebaliknya, jika manusia melakukan
kejahatan, maka dia mendapat hukuman. Dengan demikian, pembaca dapat memetik
pelajaran, keputusan apa yang akan mereka buat, melakukan yang baik bagi Adonay atau yang jahat, karena
konsekuensi logis setiap perbuatan telah dicontohkan melalui kehidupan tokoh-tokoh
di dalam Torah.
Berdasarkan tiga alasan sebelumnya, Torah layak untuk dijadikan pedoman hidup umat manusia. Keefektifan
sistem pengendalian internal atas proses penulisan Torah menjamin kredibilitas
informasi yang terkandung dalam Torah, kebenaran firman Adonay menjamin keterandalan
informasi di dalamnya. Keterandalan berarti informasi di dalam Torah dapat
diverifikasi dan divalidasi serta diuji kebenarannya. Firman Adonay yang bersifat kekal
menjamin keberpautan informasi tersebut. Keberpautan artinya segala informasi
di dalam Torah dapat terjadi dulu, kemarin, sekarang, besok, dan sampai
selama-lamanya. Tidak ada kitab suci lain yang memiliki sistem pengendalian
internal seefektif Torah, sehingga tidak ada kitab lain yang berisi informasi
sekredibel, seandal, dan seberpaut Torah. Dengan demikian, hanya Torahlah yang
layak untuk dijadikan pedoman hidup umat manusia.
Axioma
Axioma adalah pernyataan
berterima umum (generally accepted
statement). Untuk dapat memahami Torah yang rumit, penuh teka-teki,
simbol-simbol, pembaca harus terlebih dulu memiliki panduan yang berguna
sebagai modal dalam proses pembelajaran Torah. Sesuai dengan sebutannya,
pernyataan berterima umum, axioma tidak memerlukan pembuktian kebenaran karena
setiap orang, dengan akal sehat, akan berpikir bahwa ia benar. Axioma-axioma
tersebut adalah (1) berdoa sebelum membaca, (2) sebagian besar Torah berisi
simbol, (3) Torah ditulis dengan bahasa konseptual; bukan teknis, (4) ada
alasan logik dalam setiap perintah, peraturan, larangan, simbol serta segala
firman yang dikatakan oleh Adonay,
dan (5) firman Adonay
bersifat kekal.
Torah ditulis oleh karena (1) wahyu dari Adonay kepada penulis dan (2)
kepandaian penulis dan pengetahuannya tentang tulisan. Oleh karena itu, untuk
mencerna setiap tulisan Torah, pembaca harus memenuhi ke-dua syarat tersebut. Syarat
pertama didapati melalui permohonan
secara langsung kepada Adonay sebagai penyingkap segala
yang terselubung. Kemudian, kepandaian dan pengetahuan tentang tulisan dapat diperoleh
melalui pembelajaran secara formal (sekolah).
Sebagian besar isi
Torah menggunakan simbol di dalam penjelasannya. Oleh karena itu, pembaca
tidak dapat mencerna tulisan secara hurufiah, karena Saudara sangat mungkin
salah dalam menafsir tulisan tersebut. Untuk memahami arti simbol, atau
berbagai ibarat, pembaca harus memiliki kemampuan berpikir analitis.
Torah ditulis
dengan bahasa konseptual; bukan teknis. Karena Torah merupakan firman Adonay, Elohiym, pencipta langit
dan bumi, serta segala isinya yang disampaikan kepada penulis melalui wahyu, gaya
penuilsannya tingkat tinggi, sesuai dengan keluarbiasaan kepandaian yang
melekat pada Adonay, Elohiym,
pencipta langit dan bumi serta segala isinya. Dengan demikian, pembaca dituntut
untuk memiliki modal dasar, yakni kepandaian agar dapat memahami bahasa
konseptual tersebut. Ada dua alasan mendasar mengapa gaya penulisan Torah tidak
bersifat teknis: (1) karena Torah kitab suci; bukan novel dan (2) karena gaya
penulisan teknis tidak efisien, padahal efisiensi merupakan tuntutan dalam
penulisan ilmiah.
Oleh karena kesangatpandaian Adonay, setiap perintah, peraturan, larangan, simbol serta segala firman yang
dikatakan Adonay
pasti beralasan dan bermakna. Oleh karena itu, pembaca harus berpikir keras untuk
memahami alasan setiap perintah, peraturan, larangan, simbol serta segala
firman yang dikatakan oleh Adonay
agar pembaca dapat memahami maksud dan tujuan Adonay. Dengan demikian, pembaca menjalani
hidup yang sesuai dengan kehendakNya.
Firman Adonay bersifat kekal. Oleh karena itu, pembaca,
pada saat mempelajari Torah, harus yakin bahwa firman Adonay tersebut tetap berlaku
bagi semua manusia di masa sekarang dan bahkan di masa mendatang.
Penafsiran
dan Implikasi
Bereshith pasal Satu
|
Kutipan
|
Tafsiran
|
Landasan
Argumen
|
Implikasi
|
|
Roh Elohiym
melayang-layang di atas permukaan air
|
Penciptaan langit dan
bumi adalah proyek Elohiym.
Air adalah bahan
Roh Elohiym bersifat maha
kudus.
Roh Elohiym menguduskan
bahan
|
Ayat 1
Ayat 6
Terminologi “Roh Kudus”
pada kenaikan Yeshua Hamashiah ke surga
|
Sebelum memulai
pekerjaan, kita harus menahirkan bahan
|
|
Berfirmanlah Elohiym:
“Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.
|
Tahap pertama pekerjaan Elohiym
adalah menciptakan terang.
Pekerjaan hanya dapat
dilakukan dalam tempat yang terang.
Terang adalah salah satu
karakteristik Elohiym.
Terang merepresentasi Elohiym.
|
Ayat 3
|
Kita dapat melakukan
pekerjaan dalam tempat terang. Terang adalah Elohiym. Dengan demikian, kita
harus tinggal di dalam Elohiym, agar pekerjaan kita berhasil.
|
|
Elohiym melihat bahwa
terang itu baik, lalu dipisahkanNyalah terang itu dari gelap
|
Terang tidak dapat
bersatu dengan gelap. Elohiym tidak dapat bersatu dengan nonElohiym.
|
|
Jika kita tinggal di
dalam Elohiym, maka kita harus dengan segenap hati mengikutiNya. Kita tidak
dapat memilih keduanya: terang dan gelap; melainkan hanya salah satu: Elohiym
atau nonElohiym.
|
|
Jadilah petang dan
jadilah pagi, itulah hari pertama
|
Penulis membagi proses
penciptaan langit dan bumi serta segala isinya menjadi enam hari sebagai
sistematika penjelasan, agar keterpahamiannya terjangkau.
|
Ilmuwan menemukan bukti
bahwa proses penciptaan langit dan bumi serta segala isinya terjadi selama
ribuan, ratusan ribu bahkan jutaan tahun.
|
Sebagaimana Elohiym
bekerja secara logis, terstruktur, dan terorganisasi dalam pekerjaanNya,
demikian pulalah kita mengorganisasikan pekerjaan kita secara sistematik.
|
|
Berfirmanlah Elohiym:
“Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.”
|
...(bersambung)
|
...(bersambung)
|
...(bersambung)
|
[1] Penulis menggunakan kata “Adonay” alih-alih “TUHAN”, karena nama Elohiym
tidak perlu diterjemahkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar