Sabtu, 01 Maret 2014

HOW TO LIVE A DECENT LIFE
Oleh: Virdy
Pendahuluan
Pernahkah Saudara bertanya pada diri Saudara sendiri: apa tujuan Saudara hidup? Mungkin Saudara menjawab: untuk memperoleh keberhasilan dalam segala aspek kehidupan. Sebagai contoh, apabila seorang mahasiswa, jawaban konkretnya adalah untuk segera lulus dari fakultas dengan nilai cumlaude, setelah itu mendapatkan pekerjaan bergengsi (dignified), yang pada akhirnya mendatangkan kemakmuran (prosperity). Tujuan tersebut adalah tujuan di dalam proses kehidupan, berbeda ketika Saudara berpikir lebih dalam mengenai apa tujuan paling akhir (ultimate) kehidupan ini. Jawabannya takterbantahkan (undisputable), yakni kematian jasmani dan kembalinya roh kepada Sang Pencipta.
Sekarang kita menyadari tujuan paling akhir kita adalah untuk berpulang kepada Sang Pencipta, timbullah pertanyaan yang penting untuk dijawab: apa yang harus kita lakukan selama proses kehidupan—kehidupan jasmani? Terlebih penting lagi bagaimana kita melakukannya?
Cycle Law
Di dalam proses kehidupan, sejak zaman Adam sampai detik ini, berlaku aturan dasar, yakni segala sesuatu di dalam dunia ini akan kembali lagi ke asalnya. X akan kembali menjadi X, juga X dari satu titik, misal titik A, akan kembali lagi ke titik A. Sebagai contoh, air laut diserap oleh awan, singkat proses, terjadilah hujan, yang kemudian kembali lagi memenuhi laut. Demikian seterusnya tanpa henti, sampai terjadi kesudahannya. Contoh lain, satu hari dimulai dari petang kemudian di akhiri petang berikutnya (menurut kitab Taurat). Matahari terbit, kemudian matahari terbenam, demikian terus tiada berkesudahan.
Manusia dibentuk oleh Sang Pencipta oleh material debu tanah (pembentuk jasmani), debu tanah tersebut masih mati, lalu Sang Pencipta menjadikannya makhluk hidup dengan memberi nafas hidup di dalam hidungnya (nostril). Sesuai dengan aturan dasar yang berlaku (cycle law), sangat pasti bahwa manusia akan kembali kepada debu tanah; nafas hidup yang merupakan representasi roh G-d akan kembali kepada G-d.
Alasan Mengapa G-d Menciptakan Manusia
Menjawab pertanyaan “mengapa” jauh lebih sulit daripada menjawab pertayaan “apa tujuan” atau “apa maksud”. Alasan sangat penting dijawab, karena di dalam alasan ada proses penalaran. Oleh karena itu, alasanlah yang merepresentasi kecerdasan berpikir seseorang. Terlebih lagi jika kita mengajukan pertanyaan: mengapa G-d menciptakan manusia? Apakah karena G-d hanya sekadar iseng mencari-cari pekerjaan? Apakah karena G-d senang disembah, sehingga Dia menciptakan manusia yang ditujukan untuk menyembahNya?
Mari kita telaah kedua jawaban sembrono tersebut. Apakah mungkin G-d, Sang Pencipta, yang sangat cerdas, dapat dipahami kecerdasan berpikir G-d di dalam proses penciptaan di dalam Bereishith, menciptakan manusia dengan rationale yang lemah atau bahkan tanpa rationale? Tentu tidak. Dengan demikian, jawaban pertama jelas tidak dapat diterima.
Bagaimana dengan jawaban kedua: G-d menciptakan manusia, karena Dia senang disembah dan dipuja? Jawaban ini agak masuk akal, karena memang kebesaran dan keagungan G-d patut untuk dipuja dan disembah bukan oleh G-d sendiri, melainkan oleh ciptaanNya. Namun, jika benar G-d ingin disembah dan dipuja, mengapa Dia memberi kebebasan kepada manusia untuk tidak menyembahNya. Bahkan Dia memberi kebebasan manusia untuk berkeyakinan bahwa Dia tidak ada. Dengan demikian, jawaban kedua juga salah.
Untuk menjawab agak tepat alasan mengapa G-d menciptakan manusia kita perlu berpikir dari perspektif G-d, dengan kata lain, kita menempatkan diri menjadi G-d, lalu kita bisa mencoba menjawab alasan mengapa manusia diciptakan. G-d menciptakan manusia karena G-d memiliki sifat, yakni mencipta melalui pekerjaanNya. Sebagaimana manusia tidak menganggur, demikian pula G-d tidak pernah menganggur; Dia bekerja melalui kekuatan dan keagunganNya sebagai pencipta semesta. Hanya saja, yang membedakan pekerjaan G-d dengan manusia adalah kesempurnaan. G-d bekerja dengan sangat sempurna; manusia tidak.
Tujuan Akhir Proses Kehidupan
Sesuai dengan cycle law, manusia akan meninggal (jasad) dan roh kembali kepada G-d yang memberikannya. Dengan demikian, tentunya, G-d akan meminta pertanggungjawaban atas apa yang telah kita lakukan semasa hidup. Apabila seseorang menghidupi kehidupannya semasa hidup dulu dengan baik di mata G-d, maka G-d akan memberikanNya “hadiah”; demikian pula sebaliknya.
Jadi meninggal dan berpulang kepada G-d adalah sebuah kepastian. Apa yang belum pasti? Kita mendapat “hadiah” dari G-d atau sebaliknya. G-d memberi “hadiah” apabila menurut pertimbanganNya orang tersebut, semasa hidup, melakukan segala peraturan dan ketetapanNya. Jadi, fokus kita bukan pada bagaimana mendapat “hadiah”, melainkan bagaimana kita sekarang, selama hidup, menghidupinya dengan bermutu di mata G-d. Saya pikir terlalu economist jika kita sekarang hanya berfokus pada bagaimana mendapat “hadiah” dari G-d. Terlebih daripada itu, kita perlu memegang segala peraturan dan ketetapanNya bukan oleh karena “hadiah” tapi oleh karena kasih (love) kita kepadaNya. Love mungkin kata benda atau kata kerja. Bila dilihat sebagai kata benda, berarti love adalah sebuah perasaan kuat kita untuk berpaut pada G-d. Konsekuensi logisnya, kita berusaha untuk menaati segala peraturan dan ketetapanNya. Jika love sebagai kata kerja, ini berarti kita harus love G-d dengan segenap roh, jiwa, dan tubuh kita. Love inilah yang menjadi landasan seseorang menaati segala peraturan dan ketetapan G-d. Jika manusia hidup menaati segala peraturan dan ketetapanNya, maka manusia dapat dikatakan menghidupi kehidupannya secara bermutu.
Manusia lahir sampai meninggal menjalani sebuah proses relatif lama. Pada rerata, manusia meninggal di atas tujuh puluh tahun. Oleh karena itu, bagaimana menghidupi kehidupan selama tujuh puluh tahun dengan bermutu menjadi isu penting yang harus dikaji.
Metoda, Teknik, dan Prosedur yang Diperlukan di Dalam Proses Kehidupan
Bayangkan jika Saudara dalam lima hari ke depan akan pergi ke pedalaman Kalimantan Barat, Saudara sekarang berada di Jakarta. Berarti Saudara pertama harus menentukan alat transportasi apa yang akan membawa Saudara sampai ke Kalimantan Barat, bagaimana menggunakan alat tersebut (asumsi alat dikendalikan oleh Saudara sendiri), persiapan apa saja yang perlu Saudara daftar dalam catatan pribadi Saudara, supaya Saudara tidak mengalami kesulitan di tengah perjalanan. Itulah yang disebut dengan metoda, teknik, dan prosedur. Mereka adalah alat atau bisa juga dikatakan strategi, bagi orang yang terbiasa menggunakannya.
Sama halnya dengan proses kehidupan, yang mana tujuan akhirnya adalah sampai kepada G-d, memerlukan metoda, teknik, dan prosedur. Kita perlu menentukan alat apa dan bagaimana menggunakannya, sehingga proses kehidupan kita efektif, dan sebagai akibatnya G-d berkenan kepada kita.
Sistem Keyakinan Sebagai Alat Berdaya Dalam Menjadikan Efektif Proses Kehidupan
Apa yang saya maksudkan dengan sistem keyakinan? Sistem keyakinan adalah sebuah bangunan yang terdiri dari komponen utama: buku pedoman dan pendukung: prinsip iman; peraturan-peraturan dan ketetapan-ketetapan; hari raya; dan lain-lain, yang setiap komponen tersebut saling terkait dan terhubung satu sama lain.
Sistem keyakinan dapat secara mudah disamakan dengan agama. Penulis menggunakan istilah sistem keyakinan alih-alih agama, karena sesungguhnya keyakinanlah menjadi landasan tindakan manusia; baik tindakan baik maupun jahat. Seseorang dapat saja dikatakan beragama, namun tidak membangun dan melakukan renovasi atas sistem keyakinannya, sehingga agamanya seringkali tidak menjadi dasar bagi tindakannya. Sebagai contoh, seseorang menganut agama Kristen, tapi suatu saat orang tersebut datang ke paranormal untuk diramal mengenai masa depannya. Padahal agama Kristen, yang saya tahu, tidak enabling penganutnya untuk mempercayai ramalan.
Agama Sebagai Metoda, Teknik, Dan Prosedur
Berikut sebuah anekdot: ada lima orang mahasiswa tinggal bersama dalam satu rumah, dan kampus mereka pun sama. Kelima mahasiswa tersebut bernama Andi, Budi, Cecep, Dodi, dan Edo. Andi setiap hari pergi ke kampus dengan mengendarai mobil; Budi pergi ke kampus dengan mengendarai sepeda motor; Cecep pergi ke kampus dengan mengendarai sepeda; Dodi pergi ke kampus dengan angkutan umum; Edo pergi ke kampus dengan berjalan kaki. Suatu ketika Andi mengejek keempat kawannya, sambil berkata: “alat transportasi yang paling efektif dan efisien itu naik mobil, ah kalian semua payah, harusnya kalian semua seperti saya, punya mobil, jadi ke kampus naik mobil, ngapain naik motor, sepeda, angkot, apalagi jalan kaki!”. Lalu Budi menjawab: “ ah tidak, naik mobil kan ribet, paling enak naik motor, cepat, ringkas, murah meriah. Ngapain kamu Andi naik mobil, kalo jalan macet, kan jadi lama. Apalagi naik angkot, mesti nunggu supirnya ngetem, trus naik sepeda juga kelamaan, apalagi jalan kaki, wah lebih lama lagi.” Perdebatan di atas berlangsung selama dua jam tanpa ada kesepakatan, alat transportasi apakah yang sesungguhnya paling efektif dan efisien untuk membawa mereka sampai ke kampus. Setiap orang menganggap bahwa alat transportasi yang mereka gunakanlah yang terbaik. Tidak ada satu pun di antara mereka yang mengakui keefektifan dan keefisienan alat transportasi kawan lainnya.
Anekdot di atas sama persis dengan perdebatan agama dari dulu sampai sekarang, sampai selamanya. Setiap duta atau marketer agama x menganggap agamanyalah metoda yang paling efektif untuk diterapkan di dalam proses kehidupan. Agama selain x pasti salah, terlebih lagi ada sebuah agama yang mana marketernya berani berpromosi: “hanya dengan mempercayai Mr.Y, Anda pasti masuk surga, Anda dan seisi rumah Anda”. Sebagai tambahan, marketer tersebut menganggap bahwa untuk masuk surga hanya melalui percaya kepada Mr.Y, jadi sesiapa yang tidak mempercayai Mr.Y dikutuk; masuk neraka. Keyakinan seperti itu sangatlah tidak fair. Apakah seseorang pembunuh yang mempercayai Mr. Y pasti masuk surga, sebaliknya seseorang sholeh yang tidak mempercayai Mr. Y pasti masuk neraka? Sungguh tidak adil G-d, padahal G-d kan maha Adil.
Bertolak dari anekdot di atas, kita dapat mempelajari satu hal penting: metoda, teknik, dan prosedur sangat mungkin berbeda antara orang yang satu dengan orang yang lain. Oleh karena itu, sistem keyakinan bersifat individualistik. Sebuah sistem keyakinan tidak dapat diterapkan oleh semua orang. Penulis mulai menyebut agama semitik: Yudaisma, Kristen, dan Islam. Yudaisma merupakan sistem keyakinan yang sangat berdaya di dalam proses kehidupan hanya bagi orang yang memahami kitab suci Taurat, beriman pada semua yang terkandung di dalamnya, bersedia menaati segala peraturan dan ketetapan yang termuat di dalamnya. Yudaisma tidak berdaya jika seseorang tidak memahami kitab suci Taurat, tidak beriman pada semua yang terkandung di dalamnya, dan terlebih lagi, ini yang paling mungkin, tidak bersedia menaati segala peraturan dan ketetapan di dalamnya. Demikian pula halnya dengan Kristen dan Islam.
Dengan demikian, agama bukanlah topik perdebatan, melainkan sebuah sistem keyakinan yang dipilih, secara sadar dan sukarela, tanpa tekanan pihak lain, untuk dibangun, direnovasi secara berkelanjutan oleh seseorang.
Yudaisma: Sistem Keyakinan yang Menjadikan Proses Kehidupan Bermutu
Apakah Yudaisma? Yudaisma adalah sebuah sistem keyakinan yang mana pedomannya adalah Taurat dengan prinsip iman (the rambam’s thirteen principles of faith) sebagai berikut: (1) menyembah G-d dan menyampaikan doa hanya kepadaNya, (2) meyakini bahwa Musa, …(13) dan peraturan pokok (hukum taurat) sebagai berikut: (1) hanya menyembah G-d, (2) tidak membuat patung, (3) tidak menyebut namaNya sembarangan, (4) menghormati dan menguduskan hari Sabbath, (5) menghormati ayah dan ibu, (6) tidak membunuh, (7) tidak mencuri, (8) tidak berzinah, (9) tidak mengucapkan saksi dusta, (10) tidak mengingini kepemilikan orang lain. Kesepuluh hukum tersebut merupakan hukum garis besar yang kurang bersifat teknis, sehingga mereka dapat dijabarkan secara rinci menjadi peraturan-peraturan teknis (mitzvot) yang berjumlah 613.
Oleh karena semua komponen pendukung sistem keyakinan Yudaisma berlandaskan Taurat, pembahasan berfokus pada keberdayaan Taurat sebagai pedoman hidup yang memampukan penganutnya untuk menghidupi kehidupan dengan bermutu agar berkenan di mata G-d.
Mengapa Taurat?
Taurat berasal dari kata Ibrani “tora” yang berarti hukum. Secara khusus Taurat terdiri dari lima buku: (1) Bereishith, (2) Shemoth, (3) Bamidbar, (4) Vayiqra, dan (5) Devarim. Bereishith menceritakan kisah awal penciptaan langit dan bumi dan manusia sampai zaman Yusuf meninggal di negeri Mesir. Shemoth menceritakan kelahiran Musa, keluarnya umat Israel dari Mesir, sampai umat Israel sampai di tanah perjanjian. Bamidbar menceritakan perihal kependudukan Israel, yakni jumlah rakyat sipil dan wajib militer. Vayiqra mengatur berbagai hukum dan peraturan-peraturan penyembahan, penebusan dosa, dan sebagainya. Devarim sebagian besar menceritakan kembali keluarnya umat Israel dan perjalanan hidup umat Israel di padang gurun secara ringkas serta review kesepuluh hukum Taurat.
Berdasarkan kelima buku di dalam Taurat, penulis membagi Taurat menjadi dua perspektif: (1) perspektif hukum: peraturan dan ketetapan dan (2) perspektif sejarah. Taurat adalah hukum, karena inti Taurat adalah pembelaan G-d terhadap umat pilihanNya dengan memberikan mereka tanah yang subur dan makmur. Hukum yang diberikan merupakan “bekal” bagi kehidupan mereka di tanah perjanjian. Taurat adalah sejarah, karena ia menceritakan tokoh utama turun temurun secara kronologis. Pertama Adam, kemudian Nuh, kemudian sampai pada Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf, Musa, pembebebasan umat Israel, dan seterusnya. Berdasarkan dua perspektif tersebut, penulis dapat menyimpulkan dua besar keberdayaan Taurat yang darinya penganutnya belajar bagaimana menghidupi kehidupannya dengan bermutu, sehingga berkenan di mata G-d.
Hukum Taurat sebagai pengendalian internal atas proses kehidupan (internal control over living process). Pernahkah Saudara membayangkan tidak ada hukum di dalam kehidupan ini? Manusia dilahirkan mewarisi apa yang menjadi “atribut” Adam dan Hawa, yakni pengetahuan tentang yang baik dan jahat. Namun, karena keterpisahan manusia pada Sang Pencipta, maka konsekuensi logisnya adalah kecenderungan hati manusia kepada kejahatan. Oleh karena itu, hukum diperlukan di dalam kehidupan umat manusia untuk mencegah kejahatan. Karakteristik jahat bawaan manusia dapat difilter oleh sebuah internal control system. Tauratlah internal control system tersebut. Apa bedanya Taurat dengan kitab lain? Taurat merupakan hukum pertama dan didiktekan langsung oleh Sang Pencipta. Sebagai akibatnya, hukum tersebut sangat sistematik dan lengkap. Sistematik karena hukum tersebut terdiri dari dua bagian, yakni aturan hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta dan aturan hubungan antara manusia dengan sesama manusia. Hubungan manusia dengan sesama manusia menjadi lebih baik apabila setiap pribadi memiliki internal control yang baik. Internal control yang baik merupakan buah hubungan pribadi antaran manusia dengan Sang Pencipta. Lengkap, karena sepuluh hukum taurat hanya overview yang sesungguhnya dibagi lagi menjadi ratusan hukum yang bersifat teknis dan terinci. Bukan hanya itu, kitab tersebut mengatur bagaimana cara yang paling efektif untuk melaksanakan aturan tersebut.
Kisah tokoh-tokoh di dalam Taurat merupakan bahan pembelajaran bagi penganutnya. Taurat menceritakan juga kisah-kisah kehidupan umat manusia baik yang brengsek maupun yang baik dan benar. Setiap perbuatan baik dan jahat menghasilkan konsekuensi, bisa hukuman atau berkat. Dengan demikian, perenung Taurat dapat belajar darinya bagaimana sekarang menjalani kehidupan mereka.
Penutup

Tulisan ini ditujukan kepada dua golongan: (1) umat agama apapun selain Yudaisma dan (2) khusus bagi penganut Yudaisma. Bagi umat penganut selain Yudaisma tulisan ini hanya sampai pada subjudul agama sebagai metoda, teknik, dan prosedur. Mengapa demikian? Karena saya tidak ingin berpromosi atau berdakwah atau mengajak atau membujuk atau memengaruhi atau mengunggulkan Yudaisma. Bagi penganut Yudaisma saya memberikan tulisan ini dari awal sampai akhir agar mereka dapat terinspirasi dan mereka pun memberikan saran perbaikan kepada penulis mengenai kekurangan tulisan ini.
PEMBELAJARAN TORAH: AXIOMA, PENAFSIRAN DAN IMPLIKASI (berdasarkan dogma kristen)

Tehillim 1: 2 & 3
 “Tetapi yang kesukaannya ialah Torah Adonay[1], dan yang merenungkan Torah itu siang dan malam. Dia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.”

Pendahuluan
Di dunia ini, pada umumnya, ada tiga kitab suci besar yang dijunjung oleh umat manusia. Berdasarkan urutan penulisannya, mereka adalah Torah, Injil, dan Al-quran. Dua dari tiga kitab suci tersebut secara logis dan konseptual merupakan kesatuan. Mereka adalah Torah dan Injil. Saya mengibaratkan Torah adalah soal ujian dan Injil adalah kunci jawaban atas soal tersebut. Makna lain, yang mungkin lebih tepat, Torah adalah representasi mengenai apa yang akan terjadi di masa depan, yang tentunya masih sangat jauh. Sebagai contoh, Torah mengatur bagaimana proses pendamaian (penebusan dosa) antara manusia dan Adonay dilakukan dengan cara mengorbankan binatang mamalia atau burung, padahal pengorbanan binatang tidak mendamaikan manusia dengan Adonay. Proses pendamaian hanya bisa dilakukan oleh kematian Adonay sendiri. Namun, pengorbanan binatang adalah sebuah simbol yang bermakna bahwa dosa mengakibatkan kematian, agar manusia bisa tetap hidup, kehidupan harus dikorbankan, sebagai ganti kematian manusia. Injil telah menjawab representasi tersebut melalui kelahiran Yeshua Hamashiah. Tulisan ini akan menjelaskan lebih rinci, dalam bagian penafsiran, logika mengapa Adonay menjadi manusia dan mati.
            Bagian pertama tulisan ini adalah menjelaskan alasan mengapa Torah sangat penting untuk dipelajari secara mendalam. Sebelum mempelajari Torah, pembaca harus memiliki axioma sebagai modal untuk dapat memaknai pesan yang terkandung di dalam Torah. Setelah memiliki modal untuk memaknai isi Torah, pembaca dapat melakukan penafsiran atas simbol-simbol atau teka-teki yang terkandung di dalamnya. Jika penafsiran dapat dilakukan, maka implikasi secara automatis dapat dipetik oleh pembaca. Bagian terakhir tulisan ini adalah menyimpulkan implikasi, sehingga pembaca dapat memahami hakikat manusia sebagai hamba Adonay, apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukannya, mengapa harus melakukannya. Dengan demikian, saya dan Saudara hidup berkenan di hadapan Adonay.

Alasan mengapa Torah harus dipelajari
Torah merupakan kitab suci pertama di muka bumi, kemudian diikuti oleh Injil dan Al-quran. Ada empat alasan mendasar mengapa Torah harus dipilih sebagai kitab suci Saudara dan sekaligus mengapa ia harus dipelajari dengan sangat saksama, yakni: (1) Torah ditulis dengan sistem pengendalian internal (Internal Control System) yang sangat efektif, (2) Torah merupakan kitab suci pertama di muka bumi, (3) Torah memaparkan secara obyektif kehidupan manusia, dan (4) Torah berguna sebagai pedoman hidup manusia.
            Torah ditulis dengan sistem pengendalian internal yang sangat efektif. Sistem pengendalian internal adalah sebuah perekayasaan sistem yang dirancang agar fungsi, proses, dan aktivitas berjalan sesuai dengan tujuan yang dikehendaki, tanpa penyimpangan baik disengaja maupun tidak disengaja. Di dalam organisasi, sistem pengendalian internal dirancang oleh sekelompok orang yang memimpin organisasi tersebut. Demikian pula sistem pengendalian internal atas proses penulisan Torah. Ia dirancang oleh Adonay, Elohiym, pencipta langit dan bumi, serta segala isinya. Dengan demikian, kitab suci Torah bebas dari kesalahan penulisan, kepalsuan, pengurangan, dan penambahan oleh penulis.
            Bukti mengenai keefektifan sistem pengendalian internal atas proses penulisan Torah diperoleh melalui pengamatan bahwa bangsa Yahudi sangat menjunjung tinggi kesakralan kitab suci itu sendiri dan segala material di dalam peribadatan. Sebagai contoh, tabut Adonay hanya boleh disentuh oleh para imam, jika orang awam menyentuhNya, maka dia akan mati. Contoh lain, Tulisan Torah pada gulungan kitab dari kulit tidak boleh disentuh oleh tangan, Umat Yahudi menggunakan alat penunjuk untuk menyentuh huruf-huruf tersebut. Sebagai tambahan, penyalin Torah harus membersihkan seluruh tubuhnya terlebih dulu, tentunya disertai dengan ritual penyucian, sebelum menulis tetragramaton. Jika tidak demikian, maka mereka akan mati oleh karena tulah.
            Dari ke-tiga kitab suci yang telah disebutkan di atas, Torah merupakan kitab pertama. Dengan demikian, secara sistematis, setiap orang harus memulai pembelajaran kitab suci dengan mempelajari Torah. Di dalam Torah disingkapkan asal usul terbentuknya langit dan bumi serta segala isinya, penciptaan manusia, bagaimana manusia yang awalnya merupakan hamba Adonay kemudian secara struktural menjadi sama seperti Adonay, mengapa manusia menjadi berdosa, mengapa binatang menjadi korban untuk pendamaian antara Adonay dan manusia. Injil tidak menjelaskan semua ini, ia hanya menjawab apa yang sudah menjadi teka-teki, simbol, yang selalu digunakan di dalam Torah. Demikian pula halnya dengan Al-quran.
            Torah menceritakan secara obyektif kehidupan manusia baik kebaikan maupun kejahatan. Sejak kejatuhan pertama manusia ke dalam dosa, Torah menjelaskan secara implisit bahwa di dalam dunia ini berlaku hukum konsekuensi logis. Jika manusia melakukan perbuatan baik di mata Adonay, maka dia menerima upahnya, begitu pun sebaliknya, jika manusia melakukan kejahatan, maka dia mendapat hukuman. Dengan demikian, pembaca dapat memetik pelajaran, keputusan apa yang akan mereka buat, melakukan yang baik bagi Adonay atau yang jahat, karena konsekuensi logis setiap perbuatan telah dicontohkan melalui kehidupan tokoh-tokoh di dalam Torah.
            Berdasarkan tiga alasan sebelumnya, Torah layak untuk dijadikan pedoman hidup umat manusia. Keefektifan sistem pengendalian internal atas proses penulisan Torah menjamin kredibilitas informasi yang terkandung dalam Torah, kebenaran firman Adonay menjamin keterandalan informasi di dalamnya. Keterandalan berarti informasi di dalam Torah dapat diverifikasi dan divalidasi serta diuji kebenarannya. Firman Adonay yang bersifat kekal menjamin keberpautan informasi tersebut. Keberpautan artinya segala informasi di dalam Torah dapat terjadi dulu, kemarin, sekarang, besok, dan sampai selama-lamanya. Tidak ada kitab suci lain yang memiliki sistem pengendalian internal seefektif Torah, sehingga tidak ada kitab lain yang berisi informasi sekredibel, seandal, dan seberpaut Torah. Dengan demikian, hanya Torahlah yang layak untuk dijadikan pedoman hidup umat manusia.

Axioma
Axioma adalah pernyataan berterima umum (generally accepted statement). Untuk dapat memahami Torah yang rumit, penuh teka-teki, simbol-simbol, pembaca harus terlebih dulu memiliki panduan yang berguna sebagai modal dalam proses pembelajaran Torah. Sesuai dengan sebutannya, pernyataan berterima umum, axioma tidak memerlukan pembuktian kebenaran karena setiap orang, dengan akal sehat, akan berpikir bahwa ia benar. Axioma-axioma tersebut adalah (1) berdoa sebelum membaca, (2) sebagian besar Torah berisi simbol, (3) Torah ditulis dengan bahasa konseptual; bukan teknis, (4) ada alasan logik dalam setiap perintah, peraturan, larangan, simbol serta segala firman yang dikatakan oleh Adonay, dan (5) firman Adonay bersifat kekal.
            Torah ditulis oleh karena (1) wahyu dari Adonay kepada penulis dan (2) kepandaian penulis dan pengetahuannya tentang tulisan. Oleh karena itu, untuk mencerna setiap tulisan Torah, pembaca harus memenuhi ke-dua syarat tersebut. Syarat pertama didapati melalui permohonan secara langsung kepada Adonay sebagai penyingkap segala yang terselubung. Kemudian, kepandaian dan pengetahuan tentang tulisan dapat diperoleh melalui pembelajaran secara formal (sekolah).
            Sebagian besar isi Torah menggunakan simbol di dalam penjelasannya. Oleh karena itu, pembaca tidak dapat mencerna tulisan secara hurufiah, karena Saudara sangat mungkin salah dalam menafsir tulisan tersebut. Untuk memahami arti simbol, atau berbagai ibarat, pembaca harus memiliki kemampuan berpikir analitis.
            Torah ditulis dengan bahasa konseptual; bukan teknis. Karena Torah merupakan firman Adonay, Elohiym, pencipta langit dan bumi, serta segala isinya yang disampaikan kepada penulis melalui wahyu, gaya penuilsannya tingkat tinggi, sesuai dengan keluarbiasaan kepandaian yang melekat pada Adonay, Elohiym, pencipta langit dan bumi serta segala isinya. Dengan demikian, pembaca dituntut untuk memiliki modal dasar, yakni kepandaian agar dapat memahami bahasa konseptual tersebut. Ada dua alasan mendasar mengapa gaya penulisan Torah tidak bersifat teknis: (1) karena Torah kitab suci; bukan novel dan (2) karena gaya penulisan teknis tidak efisien, padahal efisiensi merupakan tuntutan dalam penulisan ilmiah.
            Oleh karena kesangatpandaian Adonay, setiap perintah, peraturan, larangan, simbol serta segala firman yang dikatakan Adonay pasti beralasan dan bermakna. Oleh karena itu, pembaca harus berpikir keras untuk memahami alasan setiap perintah, peraturan, larangan, simbol serta segala firman yang dikatakan oleh Adonay agar pembaca dapat memahami maksud dan tujuan Adonay. Dengan demikian, pembaca menjalani hidup yang sesuai dengan kehendakNya.
            Firman Adonay bersifat kekal. Oleh karena itu, pembaca, pada saat mempelajari Torah, harus yakin bahwa firman Adonay tersebut tetap berlaku bagi semua manusia di masa sekarang dan bahkan di masa mendatang.

Penafsiran dan Implikasi
Bereshith pasal Satu
Kutipan
Tafsiran
Landasan Argumen
Implikasi
Roh Elohiym melayang-layang di atas permukaan air
Penciptaan langit dan bumi adalah proyek Elohiym.
Air adalah bahan baku (raw materials) langit dan bumi.
Roh Elohiym bersifat maha kudus.
Roh Elohiym menguduskan bahan baku: air.
Ayat 1


Ayat 6



Terminologi “Roh Kudus” pada kenaikan Yeshua Hamashiah ke surga
Sebelum memulai pekerjaan, kita harus menahirkan bahan baku terlebih dulu. Bahan baku bisa apa saja, termasuk tubuh kita.
Berfirmanlah Elohiym: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.
Tahap pertama pekerjaan Elohiym adalah menciptakan terang.
Pekerjaan hanya dapat dilakukan dalam tempat yang terang.
Terang adalah salah satu karakteristik Elohiym.
Terang merepresentasi Elohiym.
Ayat 3





Kita dapat melakukan pekerjaan dalam tempat terang. Terang adalah Elohiym. Dengan demikian, kita harus tinggal di dalam Elohiym, agar pekerjaan kita berhasil.
Elohiym melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkanNyalah terang itu dari gelap
Terang tidak dapat bersatu dengan gelap. Elohiym tidak dapat bersatu dengan nonElohiym.

Jika kita tinggal di dalam Elohiym, maka kita harus dengan segenap hati mengikutiNya. Kita tidak dapat memilih keduanya: terang dan gelap; melainkan hanya salah satu: Elohiym atau nonElohiym.
Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama
Penulis membagi proses penciptaan langit dan bumi serta segala isinya menjadi enam hari sebagai sistematika penjelasan, agar keterpahamiannya terjangkau.
Ilmuwan menemukan bukti bahwa proses penciptaan langit dan bumi serta segala isinya terjadi selama ribuan, ratusan ribu bahkan jutaan tahun.
Sebagaimana Elohiym bekerja secara logis, terstruktur, dan terorganisasi dalam pekerjaanNya, demikian pulalah kita mengorganisasikan pekerjaan kita secara sistematik.
Berfirmanlah Elohiym: “Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.”
...(bersambung)
...(bersambung)
...(bersambung)




[1] Penulis menggunakan kata “Adonay” alih-alih “TUHAN”, karena nama Elohiym tidak perlu diterjemahkan.
Cost-Benefit Driven Community
Virdy[1]

Abstrak
            Manusia memiliki dua peranan dalam kehidupan, yaitu sebagai makhluk sosial (homo sosialis) dan makhluk ekonomi (homo economicus). Kedua fungsi tersebut saling melengkapi, sehingga society personnel harus melakukan keduanya secara seimbang. Namun, banyak society personnel yang mendominasi tindakan ekonomi di atas aksi sosial, sehingga mereka hanya menjadi homo economicus dan kemudian menjadi opportunist. Keuntungan pribadi menjadi driver mereka dalam melakukan aksi sosial. Keuntungan yang dimaksud dalam nonmonetary term. Kemudian penulis mencoba menganalisis mengapa terjadi demikian. Penyebab yang mungkin adalah oleh karena persaingan antar community personnel. Persaingan membentuk paradigma bagi community personnel bahwa other community personnel adalah musuh mereka. Padahal justru mereka harus membangun kerja sama dengan other community personnel sehingga community tersebut competitive. Penulis memberi gagasan bagaimana konsep bersaing diubah menjadi kerja sama. Dengan demikian, kualitas kehidupan society menjadi lebih baik. Kerja sama berangkat dari premisa bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri; mereka saling membutuhkan. Inilah yang disebut makhluk sosial. Jadi penulis menyimpulkan bahwa fungsi sosial dan fungsi ekonomi adalah dua hal yang saling terkait (joint) bukan mutually exclusive, sehingga mendominasi salah satunya adalah sumber malapetaka bagi kehidupan society.

Pertemanan sama dengan bisnis. Dalam membuat keputusan ekonomik bisnis, pelaku bisnis menggunakan analisis cost benefit. Analisis tersebut kerap secara bawah sadar digunakan juga oleh society personnelistilah yang digunakan oleh penulis untuk menyebut personnel komunitas tertentu.
Padahal, manusia memiliki dua fungsi mayor dalam kehidupan: fungsi sosial dan fungsi ekonomi. Fungsi sosial menitikberatkan pada nilai-nilai humanitas sedangkan fungsi ekonomi berfokus pada egosentrisma. Fungsi sosial adalah sebuah rasa kemanusiaan (sense of humanity) yang secara lahiriah sudah terkandung di dalam diri society personnel. Sebagai contoh, seorang mahasiswa mengajari temannya yang sedang kesulitan memahami konsep suatu materi. Aksi tersebut didasarkan pada nilai kemanusiaan tanpa mengharapkan imbalan. Fungsi ekonomi adalah sebuah tindakan yang dilakukan oleh society personnel yang bertujuan untuk menguntungkan personal yang bersangkutan. Keuntungan tersebut dapat diukur baik dalam monetary term maupun nonmonetary term. Sebagai contoh, seorang mahasiswa bekerja sebagai admin perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam hal ini, fungsi ekonomi diukur dalam monetary unit. Contoh lain nonmonetary unit, seorang mahasiswa berteman dekat dengan temannya yang membawa kendaraan karena temannya suka mengantarnya pulang dan mengajaknya jalan-jalan.
Kedua fungsi tersebut haruslah secara seimbang ditempatkan oleh society personnel. Jika society personnel menyadari secara konseptual perbedaan kedua fungsi tersebut, maka mereka seharusnya dapat menempatkan kapan harus melakukan aksi sosial dan kapan harus melakukan tindakan ekonomi. Jangan melakukan tindakan ekonomi yang berkemaskan aksi sosial—inilah permasalahan mengapa saya menulis artikel ini. Terlebih lagi, jangan mengomposisi fungsi ekonomi di atas fungsi sosial. Selayaknya Tuhan telah menciptakan manusia pada hakikatnya adalah seimbang, sama peran dan fungsi, dan sama bentuk. Tuhan memberikan kedua tangan dan kaki, mata, telinga, lubang hidung, dll yang sama bentuk dan ukurannya. Tak berbeda dengan otak, otak memiliki dua belahan, yang masing-masing memiliki peran dan fungsi berbeda tetapi saling memperlengkapi, terpadu dan koheren.
Cost-Benefit Driven Community adalah sebuah sikapmeskipun tidak disadari oleh society personnelhidup yang mendominasi fungsi ekonomi. Istilah yang lebih umum dan penulis pikir tepat untuk menggantikan istilah di atas adalah homo economicus dan opportunist. Pada umumnya, community personnel melakukan tindakan ekonomi dengan berkemaskan aksi sosial. Contoh faktual, di lingkungan kampus, setiap mahasiswa tidak melakukan kegiatan ekonomi, mereka belajar, bergaul dengan komunitas mereka. Tapi anehnya, kenapa banyak diantara civitas academica yang selektif dalam berteman. Mereka memilih teman mana yang bermanfaat bagi mereka. Mereka secara tidak sadar telah melakukan cost-benefit analysis dalam membuat keputusan bergaul. Bukankah ini merupakan contoh tindakan ekonomi berkemaskan aksi sosial? Bergaul adalah aksi sosial. Sedangkan tindakan ekonomi berfokus pada pencarian keuntungan pribadi, entah itu dalam satuan monetar maupun tidak. Sebagai contoh, si A pandai dan kaya, IPK cumlaude, ditemani, disanjung dan “dijilati” oleh komunitasnya. Namun disisi lain, si B IPK-nya rendah dan miskin, tidak ada community personnel yang mendekatinya. Si  A ditemani karena si A bermanfaat bagi community personnel. Manfaat tersebut memberikan keuntungan ekonomis pada community personnel meskipun dalam ukuran nonmonetary. Sedangkan si B kurang bermanfaat bagi community personnel, sehingga dia tidak ditemani, karena dia dipikir tidak memberikan manfaat ekonomis. Jadi jelaslah bahwa banyak dan secara tidak sadar society personnel melakukan aksi sosial hanya sebagai kemasan. Isinya adalah tindakan ekonomi. Dengan demikian, maka sebagian besar community personnel tidak melakukan aksi sosial. Mereka hanyalah homo economicus, opportunist.
Sistem cost-benefit-driven community ini tidaklah fair. Keberlakuan sistem tersebut hanyalah mendistorsi hakikat manusia sebagaimana dijelaskan pada paragraf awal. Tuhan menciptakan manusia untuk saling bekerja sama, saling mengasihi satu sama lain. Berangkat dari premisa tersebut maka jelas sekali sistem cost-benefit driven community harus dirombak total. Alasannya, bergaul adalah aksi sosial bukan tindakan ekonomi. Underlying rationale bergaul seharusnya tulus—tidak mempertimbangkan untung atau rugi. Jika dalam melakukan aksi sosial society personnel mendasarkan pada tindakan ekonomi, maka apa yang terjadi hanyalah pengeksploitasian manusia. Yang jadi persoalan, bagaimana jika ada community personnel lain yang kurang—miskin dan ipk rendah, seperti kasus si B di atas. Padahal si B memerlukan bantuan dan dukungan.
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, sudah seharusnya kita mendasarkan konsep keTuhanan dalam menjalankan fungsi kehidupan. Tuhan mengajarkan kasih. Jadi seharusnya si B mendapat perhatian lebih agar kekurangannya could be covered. Demikianlah seharusnya dilakukan oleh society personnel dalam melakukan aksi sosial. Society personnel memiliki peran memberi dan menerima—tidak hanya menerima saja. Saudara dapat membandingkan laut mati dan danau tiberias di Israel.
            Sistem pergaulan tersebut telah mengakar kuat dan mengglobal, sehingga ia menjadi hukum alam. Namun, sistem tersebut dapat diubah jika ada kesadaran pada society personnel bahwa sistem yang berlaku tersebut tidaklah fair dan bahkan tidak manusiawi.
            Untuk mengubah sistem pergaulan tersebut sangat sulit, penulis menganalisis menggunakan pendekatan cause and effect linkage. Keberlakuan sistem tersebut merupakan sebuah effect atau muara persoalan. Alangkah baiknya meneliti sebab-sebab yang menjelaskan mengapa terjadi demikian.
            Penyebab utama adalah due to competitiveness. Persaingan yang ketat di antara community personnel telah membentuk paradigma bagi diri personal bahwa “saya harus menang atas community personnel lain!” atau “saya harus menjadi yang terbaik!”. Setiap pribadi membangun falsafah bahwa mereka hidup dalam persaingan global, sehingga survivability menjadi tujuan mendasar bagi mereka. Paradigma mereka tidaklah benar sepenuhnya. Kenapa? Karena Tuhan menciptakan manusia pada hakikatnya untuk bekerja sama bukan untuk bersaing, saling memusnahkan atau mengalahkan. Jika Saudara perhatikan mobil, kapal, gedung pencakar langit, maka Saudara akan menyadari bahwa tidak ada suatu pekerjaan besar—atau mungkin kecil sekalipun—yang dilakukan manusia seorang diri. Semua karya tersebut diciptakan oleh community bukan personal. Oleh karena itu menumbuhkembangkan konsep BEKERJA SAMA adalah salah satu cara untuk mengikis egosentrisma personal community personnel. Bekeja sama bukan berarti menghilangkan persaingan. Persaingan tetap ada tapi dalam lingkup yang lebih luas. Contoh, persaingan antar satu entitas bisnis dengan entitas bisnis lain, persaingan mahasiswa UGM dengan mahasiswa UI, atau jika lebih spesifik lagi persaingan antara mahasiswa jurusan Akuntansi UGM dengan mahasiswa jurusan Akuntansi UI. Pada contoh terakhir, komunitas akuntansi UGM harus bekerja sama dengan baik untuk bersaing dengan komunitas akuntansi UI begitu pun sebaliknya. Namun, kenyataan yang penulis alami, justru persaingan malah terjadi antar personnel dalam community itu sendiri. Dalam komunitas akuntansi UGM, setiap personnel “berjalan sendiri” seakan menganggap musuh mereka adalah other community personnel  bukan other community. Jika kerja sama internal community personnel akuntansi UGM tidak baik, maka bagaimanakah mahasiswa Akuntansi UGM secara keseluruhan bersaing dengan mahasiswa Akuntansi UI? Kata kerja sama dapat menggantikan (to replace for) kata bersaing. Contoh lain pada organisasi, jika setiap personnel organisasi mengutamakan self-interest, maka bagaimana tujuan organisasi secara keseluruhan akan tercapai? Jika tujuan organisasi secara keseluruhan tidak tercapai bagaimana pula organisasi tersebut mampu bersaing dengan organisasi lain?
            Dengan mengembangkan dan mengedepankan sikap bekerja sama, kemungkinan kemenangan atas persaingan pada lingkup yang luas akan lebih besar. Tim baik adalah apabila seluruh personnel memberikan effort optimal demi tercapainya tujuan tim secara keseluruhan. Tentunya pada setiap tim pasti ada personnel yang lebih dan kurang. Tantangannya adalah bagaimana personnel yang memiliki lebih menutupi personnel yang kurang bukan malah menonjolkan diri sendiri. Apabila dalam sebuah tim ada beberapa personnel yang menonjol atau menonjolkan diri sementara ada juga beberapa personnel yang kurang, maka tim tersebut bukanlah tim yang baik.
Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM akan menjadi fakultas yang berdaya saing apabila seluruh community personnel memberikan effort yang optimal, tidak ada beberapa yang terlalu pintar, pintar, kurang pintar, atau bahkan bodoh. Maka sudah menjadi tanggung jawab bagi civitas academica yang memiliki kemampuan lebih untuk memberi kepada personnel yang kurang agar pemerataan kualitas intelektual—tujuan dasar penyelenggaraan pendidikan—tercapai. Jadi, pada kasus di atas, si B tidak dibiarkan menderita sendiri melainkan ditopang oleh personnel lain yang lebih daripada si B. Demikianlah konsep kerja sama terbentuk. Inilah aksi sosial yang sesungguhnya, mulia bukan?
            Inilah kata bijak yang baru “keberhasilan adalah hak setiap society personnel”. Kata bijak ini merupakan alasan mendasar (underlying rationale) konsep kerja sama sebagai pengganti konsep bersaing. Juga paradigma “saya harus menjadi lebih baik pada esok hari” merupakan pengganti dari “saya harus menjadi yang terbaik”. Alasan saya, tidaklah mungkin seorang personnel menjadi yang terbaik karena di atas langit masih ada langit. Paradigma tersebut hanya akan membentuk kepribadian yang angkuh dan egois.
            Demikian tulisan ini dibuat agar menjadi pertimbangan berarti bagi society personnel. Saya harap semoga keadaan menjadi lebih baik (meskipun hampir mendekati mustahil). Indonesia memiliki peribahasa “tak ada gading yang tak retak TITIK” sedangkan Jepang memiliki falsafah “tidak ada manusia yang sempurna oleh karena itu setiap manusia dituntut untuk mengejar kesempurnaan”. Falsafah itu melahirkan motto kaizen yang dalam bahasa inggris berarti small gradual continous improvement.[2] Penulis menyadari kejauhsempurnaan tulisan ini, oleh karena itu saya tidak segan menerima saran dari pembaca agar tulisan ini dikaizenkan.

Glossary[3]
Community is a group of people who share a same religion, race, job, etc.
Society is people in general.




[1] Penulis adalah seorang pemerhati sosial. Tanggapan dan saran atas opini ini dapat dialamatkan ke virdy0466@mail.ugm.ac.id.
[2] Penulis mendapat informasi dari kuliah pak Mulyadi, dosen Akuntansi UGM
[3] Penulis mengutip kamus oxford. The author conceive community is a part of society.