Cost-Benefit Driven Community
Virdy[1]
Abstrak
Manusia memiliki dua peranan dalam
kehidupan, yaitu sebagai makhluk sosial (homo
sosialis) dan makhluk ekonomi (homo
economicus). Kedua fungsi tersebut saling melengkapi, sehingga society personnel harus melakukan
keduanya secara seimbang. Namun, banyak society
personnel yang mendominasi tindakan ekonomi di atas aksi sosial, sehingga
mereka hanya menjadi homo economicus
dan kemudian menjadi opportunist.
Keuntungan pribadi menjadi driver
mereka dalam melakukan aksi sosial. Keuntungan yang dimaksud dalam nonmonetary term. Kemudian penulis
mencoba menganalisis mengapa terjadi demikian. Penyebab yang mungkin adalah oleh
karena persaingan antar community
personnel. Persaingan membentuk paradigma bagi community personnel bahwa other
community personnel adalah musuh mereka. Padahal justru mereka harus
membangun kerja sama dengan other
community personnel sehingga community
tersebut competitive. Penulis memberi
gagasan bagaimana konsep bersaing diubah menjadi kerja sama. Dengan demikian, kualitas
kehidupan society menjadi lebih baik.
Kerja sama berangkat dari premisa bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri; mereka
saling membutuhkan. Inilah yang disebut makhluk sosial. Jadi penulis
menyimpulkan bahwa fungsi sosial dan fungsi ekonomi adalah dua hal yang saling
terkait (joint) bukan mutually exclusive, sehingga mendominasi
salah satunya adalah sumber malapetaka bagi kehidupan society.
Pertemanan sama dengan bisnis. Dalam membuat keputusan
ekonomik bisnis, pelaku bisnis menggunakan analisis cost benefit. Analisis tersebut kerap secara bawah sadar digunakan
juga oleh society personnel—istilah
yang digunakan oleh penulis untuk menyebut personnel komunitas tertentu.
Padahal, manusia memiliki dua fungsi mayor dalam kehidupan:
fungsi sosial dan fungsi ekonomi. Fungsi sosial menitikberatkan pada
nilai-nilai humanitas sedangkan fungsi ekonomi berfokus pada egosentrisma. Fungsi
sosial adalah sebuah rasa kemanusiaan (sense
of humanity) yang secara lahiriah sudah terkandung di dalam diri society personnel. Sebagai contoh,
seorang mahasiswa mengajari temannya yang sedang kesulitan memahami konsep suatu
materi. Aksi tersebut didasarkan pada nilai kemanusiaan tanpa mengharapkan
imbalan. Fungsi ekonomi adalah sebuah tindakan yang dilakukan oleh society personnel yang bertujuan untuk menguntungkan
personal yang bersangkutan. Keuntungan tersebut dapat diukur baik dalam monetary term maupun nonmonetary term. Sebagai contoh,
seorang mahasiswa bekerja sebagai admin perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Dalam hal ini, fungsi ekonomi diukur dalam monetary unit. Contoh lain nonmonetary
unit, seorang mahasiswa berteman dekat dengan temannya yang membawa
kendaraan karena temannya suka mengantarnya pulang dan mengajaknya jalan-jalan.
Kedua fungsi tersebut haruslah secara seimbang
ditempatkan oleh society personnel.
Jika society personnel menyadari secara
konseptual perbedaan kedua fungsi tersebut, maka mereka seharusnya dapat
menempatkan kapan harus melakukan aksi sosial dan kapan harus melakukan
tindakan ekonomi. Jangan melakukan tindakan ekonomi yang berkemaskan aksi
sosial—inilah permasalahan mengapa saya menulis artikel ini. Terlebih lagi,
jangan mengomposisi fungsi ekonomi di atas fungsi sosial. Selayaknya Tuhan
telah menciptakan manusia pada hakikatnya adalah seimbang, sama peran dan
fungsi, dan sama bentuk. Tuhan memberikan kedua tangan dan kaki, mata, telinga,
lubang hidung, dll yang sama bentuk dan ukurannya. Tak berbeda dengan otak,
otak memiliki dua belahan, yang masing-masing memiliki peran dan fungsi berbeda
tetapi saling memperlengkapi, terpadu dan koheren.
Cost-Benefit
Driven Community adalah sebuah sikap—meskipun
tidak disadari oleh society personnel—hidup
yang mendominasi fungsi ekonomi. Istilah yang lebih umum dan penulis pikir
tepat untuk menggantikan istilah di atas adalah homo economicus dan opportunist.
Pada umumnya, community personnel
melakukan tindakan ekonomi dengan berkemaskan aksi sosial. Contoh faktual, di
lingkungan kampus, setiap mahasiswa tidak melakukan kegiatan ekonomi, mereka
belajar, bergaul dengan komunitas mereka. Tapi anehnya, kenapa banyak diantara civitas academica yang selektif dalam
berteman. Mereka memilih teman mana yang bermanfaat bagi mereka. Mereka secara
tidak sadar telah melakukan cost-benefit
analysis dalam membuat keputusan bergaul. Bukankah ini merupakan contoh
tindakan ekonomi berkemaskan aksi sosial? Bergaul adalah aksi sosial. Sedangkan
tindakan ekonomi berfokus pada pencarian keuntungan pribadi, entah itu dalam
satuan monetar maupun tidak. Sebagai contoh, si A pandai dan kaya, IPK cumlaude, ditemani, disanjung dan
“dijilati” oleh komunitasnya. Namun disisi lain, si B IPK-nya rendah dan
miskin, tidak ada community personnel
yang mendekatinya. Si A ditemani karena
si A bermanfaat bagi community personnel.
Manfaat tersebut memberikan keuntungan ekonomis pada community personnel meskipun dalam ukuran nonmonetary. Sedangkan si B kurang bermanfaat bagi community personnel, sehingga dia tidak
ditemani, karena dia dipikir tidak memberikan manfaat ekonomis. Jadi jelaslah
bahwa banyak dan secara tidak sadar society
personnel melakukan aksi sosial hanya sebagai kemasan. Isinya adalah
tindakan ekonomi. Dengan demikian, maka sebagian besar community personnel tidak melakukan aksi sosial. Mereka hanyalah homo economicus, opportunist.
Sistem cost-benefit-driven
community ini tidaklah fair.
Keberlakuan sistem tersebut hanyalah mendistorsi hakikat manusia sebagaimana
dijelaskan pada paragraf awal. Tuhan menciptakan manusia untuk saling bekerja
sama, saling mengasihi satu sama lain. Berangkat dari premisa tersebut maka
jelas sekali sistem cost-benefit driven
community harus dirombak total. Alasannya, bergaul adalah aksi sosial bukan
tindakan ekonomi. Underlying rationale
bergaul seharusnya tulus—tidak mempertimbangkan untung atau rugi. Jika dalam
melakukan aksi sosial society personnel
mendasarkan pada tindakan ekonomi, maka apa yang terjadi hanyalah
pengeksploitasian manusia. Yang jadi persoalan, bagaimana jika ada community personnel lain yang kurang—miskin
dan ipk rendah, seperti kasus si B di atas. Padahal si B memerlukan bantuan dan
dukungan.
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, sudah seharusnya kita
mendasarkan konsep keTuhanan dalam menjalankan fungsi kehidupan. Tuhan
mengajarkan kasih. Jadi seharusnya si B mendapat perhatian lebih agar
kekurangannya could be covered.
Demikianlah seharusnya dilakukan oleh society
personnel dalam melakukan aksi sosial. Society personnel memiliki peran
memberi dan menerima—tidak hanya menerima saja. Saudara dapat membandingkan
laut mati dan danau tiberias di Israel .
Sistem pergaulan tersebut
telah mengakar kuat dan mengglobal, sehingga ia menjadi hukum alam. Namun, sistem
tersebut dapat diubah jika ada kesadaran pada society personnel bahwa sistem yang berlaku tersebut tidaklah fair dan bahkan tidak manusiawi.
Untuk mengubah
sistem pergaulan tersebut sangat sulit, penulis menganalisis menggunakan
pendekatan cause and effect linkage.
Keberlakuan sistem tersebut merupakan sebuah effect atau muara persoalan. Alangkah baiknya meneliti sebab-sebab
yang menjelaskan mengapa terjadi demikian.
Penyebab utama
adalah due to competitiveness.
Persaingan yang ketat di antara community
personnel telah membentuk paradigma bagi diri personal bahwa “saya harus
menang atas community personnel lain!”
atau “saya harus menjadi yang terbaik!”. Setiap pribadi membangun falsafah
bahwa mereka hidup dalam persaingan global, sehingga survivability menjadi tujuan mendasar bagi mereka. Paradigma mereka
tidaklah benar sepenuhnya. Kenapa? Karena Tuhan menciptakan manusia pada
hakikatnya untuk bekerja sama bukan untuk bersaing, saling memusnahkan atau
mengalahkan. Jika Saudara perhatikan mobil, kapal, gedung pencakar langit, maka
Saudara akan menyadari bahwa tidak ada suatu pekerjaan besar—atau mungkin kecil
sekalipun—yang dilakukan manusia seorang diri. Semua karya tersebut diciptakan
oleh community bukan personal. Oleh karena itu
menumbuhkembangkan konsep BEKERJA SAMA adalah salah satu cara untuk mengikis
egosentrisma personal community personnel.
Bekeja sama bukan berarti menghilangkan persaingan. Persaingan tetap ada tapi
dalam lingkup yang lebih luas. Contoh, persaingan antar satu entitas bisnis
dengan entitas bisnis lain, persaingan mahasiswa UGM dengan mahasiswa UI, atau
jika lebih spesifik lagi persaingan antara mahasiswa jurusan Akuntansi UGM
dengan mahasiswa jurusan Akuntansi UI. Pada contoh terakhir, komunitas
akuntansi UGM harus bekerja sama dengan baik untuk bersaing dengan komunitas
akuntansi UI begitu pun sebaliknya. Namun, kenyataan yang penulis alami, justru
persaingan malah terjadi antar personnel dalam community itu sendiri. Dalam komunitas akuntansi UGM, setiap
personnel “berjalan sendiri” seakan menganggap musuh mereka adalah other community personnel bukan other
community. Jika kerja sama internal community
personnel akuntansi UGM tidak baik, maka bagaimanakah mahasiswa Akuntansi
UGM secara keseluruhan bersaing dengan mahasiswa Akuntansi UI? Kata kerja sama
dapat menggantikan (to replace for)
kata bersaing. Contoh lain pada organisasi, jika setiap personnel organisasi mengutamakan
self-interest, maka bagaimana tujuan
organisasi secara keseluruhan akan tercapai? Jika tujuan organisasi secara
keseluruhan tidak tercapai bagaimana pula organisasi tersebut mampu bersaing
dengan organisasi lain?
Dengan
mengembangkan dan mengedepankan sikap bekerja sama, kemungkinan kemenangan atas
persaingan pada lingkup yang luas akan lebih besar. Tim baik adalah apabila
seluruh personnel memberikan effort
optimal demi tercapainya tujuan tim secara keseluruhan. Tentunya pada setiap
tim pasti ada personnel yang lebih dan kurang. Tantangannya adalah bagaimana
personnel yang memiliki lebih menutupi personnel yang kurang bukan malah
menonjolkan diri sendiri. Apabila dalam sebuah tim ada beberapa personnel yang
menonjol atau menonjolkan diri sementara ada juga beberapa personnel yang
kurang, maka tim tersebut bukanlah tim yang baik.
Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM akan menjadi fakultas
yang berdaya saing apabila seluruh community
personnel memberikan effort yang
optimal, tidak ada beberapa yang terlalu pintar, pintar, kurang pintar, atau
bahkan bodoh. Maka sudah menjadi tanggung jawab bagi civitas academica yang memiliki kemampuan lebih untuk memberi kepada
personnel yang kurang agar pemerataan kualitas intelektual—tujuan dasar
penyelenggaraan pendidikan—tercapai. Jadi, pada kasus di atas, si B tidak
dibiarkan menderita sendiri melainkan ditopang oleh personnel lain yang lebih
daripada si B. Demikianlah konsep kerja sama terbentuk. Inilah aksi sosial yang
sesungguhnya, mulia bukan?
Inilah kata bijak
yang baru “keberhasilan adalah hak setiap society
personnel”. Kata bijak ini merupakan alasan mendasar (underlying rationale) konsep kerja sama sebagai pengganti konsep
bersaing. Juga paradigma “saya harus menjadi lebih baik pada esok hari”
merupakan pengganti dari “saya harus menjadi yang terbaik”. Alasan saya,
tidaklah mungkin seorang personnel menjadi yang terbaik karena di atas langit
masih ada langit. Paradigma tersebut hanya akan membentuk kepribadian yang
angkuh dan egois.
Demikian tulisan
ini dibuat agar menjadi pertimbangan berarti bagi society personnel. Saya harap semoga keadaan menjadi lebih baik (meskipun
hampir mendekati mustahil). Indonesia
memiliki peribahasa “tak ada gading yang tak retak TITIK” sedangkan Jepang
memiliki falsafah “tidak ada manusia yang sempurna oleh karena itu setiap manusia dituntut untuk mengejar kesempurnaan”.
Falsafah itu melahirkan motto kaizen
yang dalam bahasa inggris berarti small
gradual continous improvement.[2]
Penulis menyadari kejauhsempurnaan tulisan ini, oleh karena itu saya tidak
segan menerima saran dari pembaca agar tulisan ini dikaizenkan.
Glossary[3]
Community is a group of people who share a same religion, race, job,
etc.
Society is people in general.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar