Sabtu, 01 Maret 2014

Cost-Benefit Driven Community
Virdy[1]

Abstrak
            Manusia memiliki dua peranan dalam kehidupan, yaitu sebagai makhluk sosial (homo sosialis) dan makhluk ekonomi (homo economicus). Kedua fungsi tersebut saling melengkapi, sehingga society personnel harus melakukan keduanya secara seimbang. Namun, banyak society personnel yang mendominasi tindakan ekonomi di atas aksi sosial, sehingga mereka hanya menjadi homo economicus dan kemudian menjadi opportunist. Keuntungan pribadi menjadi driver mereka dalam melakukan aksi sosial. Keuntungan yang dimaksud dalam nonmonetary term. Kemudian penulis mencoba menganalisis mengapa terjadi demikian. Penyebab yang mungkin adalah oleh karena persaingan antar community personnel. Persaingan membentuk paradigma bagi community personnel bahwa other community personnel adalah musuh mereka. Padahal justru mereka harus membangun kerja sama dengan other community personnel sehingga community tersebut competitive. Penulis memberi gagasan bagaimana konsep bersaing diubah menjadi kerja sama. Dengan demikian, kualitas kehidupan society menjadi lebih baik. Kerja sama berangkat dari premisa bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri; mereka saling membutuhkan. Inilah yang disebut makhluk sosial. Jadi penulis menyimpulkan bahwa fungsi sosial dan fungsi ekonomi adalah dua hal yang saling terkait (joint) bukan mutually exclusive, sehingga mendominasi salah satunya adalah sumber malapetaka bagi kehidupan society.

Pertemanan sama dengan bisnis. Dalam membuat keputusan ekonomik bisnis, pelaku bisnis menggunakan analisis cost benefit. Analisis tersebut kerap secara bawah sadar digunakan juga oleh society personnelistilah yang digunakan oleh penulis untuk menyebut personnel komunitas tertentu.
Padahal, manusia memiliki dua fungsi mayor dalam kehidupan: fungsi sosial dan fungsi ekonomi. Fungsi sosial menitikberatkan pada nilai-nilai humanitas sedangkan fungsi ekonomi berfokus pada egosentrisma. Fungsi sosial adalah sebuah rasa kemanusiaan (sense of humanity) yang secara lahiriah sudah terkandung di dalam diri society personnel. Sebagai contoh, seorang mahasiswa mengajari temannya yang sedang kesulitan memahami konsep suatu materi. Aksi tersebut didasarkan pada nilai kemanusiaan tanpa mengharapkan imbalan. Fungsi ekonomi adalah sebuah tindakan yang dilakukan oleh society personnel yang bertujuan untuk menguntungkan personal yang bersangkutan. Keuntungan tersebut dapat diukur baik dalam monetary term maupun nonmonetary term. Sebagai contoh, seorang mahasiswa bekerja sebagai admin perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam hal ini, fungsi ekonomi diukur dalam monetary unit. Contoh lain nonmonetary unit, seorang mahasiswa berteman dekat dengan temannya yang membawa kendaraan karena temannya suka mengantarnya pulang dan mengajaknya jalan-jalan.
Kedua fungsi tersebut haruslah secara seimbang ditempatkan oleh society personnel. Jika society personnel menyadari secara konseptual perbedaan kedua fungsi tersebut, maka mereka seharusnya dapat menempatkan kapan harus melakukan aksi sosial dan kapan harus melakukan tindakan ekonomi. Jangan melakukan tindakan ekonomi yang berkemaskan aksi sosial—inilah permasalahan mengapa saya menulis artikel ini. Terlebih lagi, jangan mengomposisi fungsi ekonomi di atas fungsi sosial. Selayaknya Tuhan telah menciptakan manusia pada hakikatnya adalah seimbang, sama peran dan fungsi, dan sama bentuk. Tuhan memberikan kedua tangan dan kaki, mata, telinga, lubang hidung, dll yang sama bentuk dan ukurannya. Tak berbeda dengan otak, otak memiliki dua belahan, yang masing-masing memiliki peran dan fungsi berbeda tetapi saling memperlengkapi, terpadu dan koheren.
Cost-Benefit Driven Community adalah sebuah sikapmeskipun tidak disadari oleh society personnelhidup yang mendominasi fungsi ekonomi. Istilah yang lebih umum dan penulis pikir tepat untuk menggantikan istilah di atas adalah homo economicus dan opportunist. Pada umumnya, community personnel melakukan tindakan ekonomi dengan berkemaskan aksi sosial. Contoh faktual, di lingkungan kampus, setiap mahasiswa tidak melakukan kegiatan ekonomi, mereka belajar, bergaul dengan komunitas mereka. Tapi anehnya, kenapa banyak diantara civitas academica yang selektif dalam berteman. Mereka memilih teman mana yang bermanfaat bagi mereka. Mereka secara tidak sadar telah melakukan cost-benefit analysis dalam membuat keputusan bergaul. Bukankah ini merupakan contoh tindakan ekonomi berkemaskan aksi sosial? Bergaul adalah aksi sosial. Sedangkan tindakan ekonomi berfokus pada pencarian keuntungan pribadi, entah itu dalam satuan monetar maupun tidak. Sebagai contoh, si A pandai dan kaya, IPK cumlaude, ditemani, disanjung dan “dijilati” oleh komunitasnya. Namun disisi lain, si B IPK-nya rendah dan miskin, tidak ada community personnel yang mendekatinya. Si  A ditemani karena si A bermanfaat bagi community personnel. Manfaat tersebut memberikan keuntungan ekonomis pada community personnel meskipun dalam ukuran nonmonetary. Sedangkan si B kurang bermanfaat bagi community personnel, sehingga dia tidak ditemani, karena dia dipikir tidak memberikan manfaat ekonomis. Jadi jelaslah bahwa banyak dan secara tidak sadar society personnel melakukan aksi sosial hanya sebagai kemasan. Isinya adalah tindakan ekonomi. Dengan demikian, maka sebagian besar community personnel tidak melakukan aksi sosial. Mereka hanyalah homo economicus, opportunist.
Sistem cost-benefit-driven community ini tidaklah fair. Keberlakuan sistem tersebut hanyalah mendistorsi hakikat manusia sebagaimana dijelaskan pada paragraf awal. Tuhan menciptakan manusia untuk saling bekerja sama, saling mengasihi satu sama lain. Berangkat dari premisa tersebut maka jelas sekali sistem cost-benefit driven community harus dirombak total. Alasannya, bergaul adalah aksi sosial bukan tindakan ekonomi. Underlying rationale bergaul seharusnya tulus—tidak mempertimbangkan untung atau rugi. Jika dalam melakukan aksi sosial society personnel mendasarkan pada tindakan ekonomi, maka apa yang terjadi hanyalah pengeksploitasian manusia. Yang jadi persoalan, bagaimana jika ada community personnel lain yang kurang—miskin dan ipk rendah, seperti kasus si B di atas. Padahal si B memerlukan bantuan dan dukungan.
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, sudah seharusnya kita mendasarkan konsep keTuhanan dalam menjalankan fungsi kehidupan. Tuhan mengajarkan kasih. Jadi seharusnya si B mendapat perhatian lebih agar kekurangannya could be covered. Demikianlah seharusnya dilakukan oleh society personnel dalam melakukan aksi sosial. Society personnel memiliki peran memberi dan menerima—tidak hanya menerima saja. Saudara dapat membandingkan laut mati dan danau tiberias di Israel.
            Sistem pergaulan tersebut telah mengakar kuat dan mengglobal, sehingga ia menjadi hukum alam. Namun, sistem tersebut dapat diubah jika ada kesadaran pada society personnel bahwa sistem yang berlaku tersebut tidaklah fair dan bahkan tidak manusiawi.
            Untuk mengubah sistem pergaulan tersebut sangat sulit, penulis menganalisis menggunakan pendekatan cause and effect linkage. Keberlakuan sistem tersebut merupakan sebuah effect atau muara persoalan. Alangkah baiknya meneliti sebab-sebab yang menjelaskan mengapa terjadi demikian.
            Penyebab utama adalah due to competitiveness. Persaingan yang ketat di antara community personnel telah membentuk paradigma bagi diri personal bahwa “saya harus menang atas community personnel lain!” atau “saya harus menjadi yang terbaik!”. Setiap pribadi membangun falsafah bahwa mereka hidup dalam persaingan global, sehingga survivability menjadi tujuan mendasar bagi mereka. Paradigma mereka tidaklah benar sepenuhnya. Kenapa? Karena Tuhan menciptakan manusia pada hakikatnya untuk bekerja sama bukan untuk bersaing, saling memusnahkan atau mengalahkan. Jika Saudara perhatikan mobil, kapal, gedung pencakar langit, maka Saudara akan menyadari bahwa tidak ada suatu pekerjaan besar—atau mungkin kecil sekalipun—yang dilakukan manusia seorang diri. Semua karya tersebut diciptakan oleh community bukan personal. Oleh karena itu menumbuhkembangkan konsep BEKERJA SAMA adalah salah satu cara untuk mengikis egosentrisma personal community personnel. Bekeja sama bukan berarti menghilangkan persaingan. Persaingan tetap ada tapi dalam lingkup yang lebih luas. Contoh, persaingan antar satu entitas bisnis dengan entitas bisnis lain, persaingan mahasiswa UGM dengan mahasiswa UI, atau jika lebih spesifik lagi persaingan antara mahasiswa jurusan Akuntansi UGM dengan mahasiswa jurusan Akuntansi UI. Pada contoh terakhir, komunitas akuntansi UGM harus bekerja sama dengan baik untuk bersaing dengan komunitas akuntansi UI begitu pun sebaliknya. Namun, kenyataan yang penulis alami, justru persaingan malah terjadi antar personnel dalam community itu sendiri. Dalam komunitas akuntansi UGM, setiap personnel “berjalan sendiri” seakan menganggap musuh mereka adalah other community personnel  bukan other community. Jika kerja sama internal community personnel akuntansi UGM tidak baik, maka bagaimanakah mahasiswa Akuntansi UGM secara keseluruhan bersaing dengan mahasiswa Akuntansi UI? Kata kerja sama dapat menggantikan (to replace for) kata bersaing. Contoh lain pada organisasi, jika setiap personnel organisasi mengutamakan self-interest, maka bagaimana tujuan organisasi secara keseluruhan akan tercapai? Jika tujuan organisasi secara keseluruhan tidak tercapai bagaimana pula organisasi tersebut mampu bersaing dengan organisasi lain?
            Dengan mengembangkan dan mengedepankan sikap bekerja sama, kemungkinan kemenangan atas persaingan pada lingkup yang luas akan lebih besar. Tim baik adalah apabila seluruh personnel memberikan effort optimal demi tercapainya tujuan tim secara keseluruhan. Tentunya pada setiap tim pasti ada personnel yang lebih dan kurang. Tantangannya adalah bagaimana personnel yang memiliki lebih menutupi personnel yang kurang bukan malah menonjolkan diri sendiri. Apabila dalam sebuah tim ada beberapa personnel yang menonjol atau menonjolkan diri sementara ada juga beberapa personnel yang kurang, maka tim tersebut bukanlah tim yang baik.
Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM akan menjadi fakultas yang berdaya saing apabila seluruh community personnel memberikan effort yang optimal, tidak ada beberapa yang terlalu pintar, pintar, kurang pintar, atau bahkan bodoh. Maka sudah menjadi tanggung jawab bagi civitas academica yang memiliki kemampuan lebih untuk memberi kepada personnel yang kurang agar pemerataan kualitas intelektual—tujuan dasar penyelenggaraan pendidikan—tercapai. Jadi, pada kasus di atas, si B tidak dibiarkan menderita sendiri melainkan ditopang oleh personnel lain yang lebih daripada si B. Demikianlah konsep kerja sama terbentuk. Inilah aksi sosial yang sesungguhnya, mulia bukan?
            Inilah kata bijak yang baru “keberhasilan adalah hak setiap society personnel”. Kata bijak ini merupakan alasan mendasar (underlying rationale) konsep kerja sama sebagai pengganti konsep bersaing. Juga paradigma “saya harus menjadi lebih baik pada esok hari” merupakan pengganti dari “saya harus menjadi yang terbaik”. Alasan saya, tidaklah mungkin seorang personnel menjadi yang terbaik karena di atas langit masih ada langit. Paradigma tersebut hanya akan membentuk kepribadian yang angkuh dan egois.
            Demikian tulisan ini dibuat agar menjadi pertimbangan berarti bagi society personnel. Saya harap semoga keadaan menjadi lebih baik (meskipun hampir mendekati mustahil). Indonesia memiliki peribahasa “tak ada gading yang tak retak TITIK” sedangkan Jepang memiliki falsafah “tidak ada manusia yang sempurna oleh karena itu setiap manusia dituntut untuk mengejar kesempurnaan”. Falsafah itu melahirkan motto kaizen yang dalam bahasa inggris berarti small gradual continous improvement.[2] Penulis menyadari kejauhsempurnaan tulisan ini, oleh karena itu saya tidak segan menerima saran dari pembaca agar tulisan ini dikaizenkan.

Glossary[3]
Community is a group of people who share a same religion, race, job, etc.
Society is people in general.




[1] Penulis adalah seorang pemerhati sosial. Tanggapan dan saran atas opini ini dapat dialamatkan ke virdy0466@mail.ugm.ac.id.
[2] Penulis mendapat informasi dari kuliah pak Mulyadi, dosen Akuntansi UGM
[3] Penulis mengutip kamus oxford. The author conceive community is a part of society.

Tidak ada komentar: