Selasa, 20 Desember 2011

Miskin pangkal Pandai

Dalam benak kita kata 'miskin' menimbulkan persepsi yang tentunya sangat tidak disukai, dijauhi, dihindarkan, bahkan setiap orang berusaha dengan segala upaya mereka untuk mengentaskan kemiskinan. Namun, mengapa saya memberi judul tulisan ini miskin adalah pangkal pandai? untuk menjawab pertanyaan ini, saya harus lebih dulu menjelaskan apa itu miskin berdasarkan persepsi saya, agar pembaca dapat mencerna ide pokok yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini.
     Miskin adalah keterbatasan kepemilikan sumber daya. Sumber daya dapat berupa sejumlah uang yang kita miliki, sumber daya alam yang terkandung di bumi kita, segenap aset berwujud yang kita miliki. Keterbatasan ini seolah memagari ruang gerak kita, keterbatasan ini seakan menghalangi harapan kita, keterbatasan ini seketika membendung semangat kita untuk mengembangkan potensi diri. Baiklah kita ambil contoh, seorang pelajar tingkat SMU yang hidup dalam kemiskinan ingin sekali melanjutkan pendidikan ke universitas untuk meningkatkan kualitas hidupnya, namun, keterbatasan keuangan rupanya bagai pagar yang membatasi ruang geraknya, keterbatasan keuangan bagai tembok beton yang memupuskan harapannya. Bagaimana jika si pelajar ini tetap "ngotot" untuk melanjutkan pendidikan ke universitas?
     Keterbatasan keuangan ini membuatnya tidak lain adalah mencari pendanaan melalui beasiswa yang ditawarkan oleh beberapa perusahaan multinasional yang tentunya program CSRnya secara berkesinambungan masuk ke dalam rencana strategiknya. Tantangan terbesarnya untuk memperebutkan beasiswa yang sangat terbatas (scarce) ini adalah menjadi terpandai daripada yang pandai.
Saya menyimpulkan bahwa kemiskinan sesungguhnya bukan saja keterbatasan tapi juga kelangkaan, inilah yang menjawab mengapa di negara yang sangat maju, seperti negara skandinavia di Eropa, Jepang dan Singapore di Asia maju di segala aspek kehidupannya, karena sumber daya mereka dipandang langka, sehingga mereka berupaya, dengan segala kepadaian mereka, untuk memberdayakan sumber daya yang langka tersebut secara efisien. Hasilnya adalah diterapkannya Activity-based cost system dan budgeting system mereka, berbeda dengan sistem anggaran tahunan pemerintah Republik Indonesia, setiap akhir tahun sisa lebih anggaran harus mereka habiskan dengan berlibur ke luar negeri bersama segenap keluarga mereka. Mengapa? Karena sumber daya melimpah. Kenapa sumber daya laut kita sering dirampok asing dan kita tidak banyak melakukan langkah-langkah nyata dalam mengatasi masalah ini? karena sumber daya laut kita melimpah, sehingga hilang 1 milyar tidak apa, toh masih ada 100 milyar, tapi apa nasib anak cucu kita? kalau tiap tahun sumber daya laut kita dirampok 10 milyar? berarti sepuluh tahun lagi sumber daya laut kita habis.