HOW TO LIVE A DECENT LIFE
Oleh: Virdy
Pendahuluan
Pernahkah
Saudara bertanya pada diri Saudara sendiri: apa tujuan Saudara hidup? Mungkin
Saudara menjawab: untuk memperoleh keberhasilan dalam segala aspek kehidupan.
Sebagai contoh, apabila seorang mahasiswa, jawaban konkretnya adalah untuk
segera lulus dari fakultas dengan nilai cumlaude,
setelah itu mendapatkan pekerjaan bergengsi (dignified), yang pada akhirnya mendatangkan kemakmuran (prosperity). Tujuan tersebut adalah
tujuan di dalam proses kehidupan, berbeda ketika Saudara berpikir lebih dalam
mengenai apa tujuan paling akhir (ultimate)
kehidupan ini. Jawabannya takterbantahkan (undisputable),
yakni kematian jasmani dan kembalinya roh kepada Sang Pencipta.
Sekarang kita menyadari tujuan paling akhir kita adalah untuk berpulang
kepada Sang Pencipta, timbullah pertanyaan yang penting untuk dijawab: apa yang
harus kita lakukan selama proses kehidupan—kehidupan jasmani? Terlebih penting
lagi bagaimana kita melakukannya?
Cycle Law
Di dalam proses kehidupan,
sejak zaman Adam sampai detik ini, berlaku aturan dasar, yakni segala sesuatu
di dalam dunia ini akan kembali lagi ke asalnya. X akan kembali menjadi X, juga
X dari satu titik, misal titik A, akan kembali lagi ke titik A. Sebagai contoh,
air laut diserap oleh awan, singkat proses, terjadilah hujan, yang kemudian
kembali lagi memenuhi laut. Demikian seterusnya tanpa henti, sampai terjadi
kesudahannya. Contoh lain, satu hari dimulai dari petang kemudian di akhiri
petang berikutnya (menurut kitab Taurat). Matahari terbit, kemudian matahari
terbenam, demikian terus tiada berkesudahan.
Manusia dibentuk
oleh Sang Pencipta oleh material debu tanah (pembentuk jasmani), debu tanah
tersebut masih mati, lalu Sang Pencipta menjadikannya makhluk hidup dengan
memberi nafas hidup di dalam hidungnya (nostril).
Sesuai dengan aturan dasar yang berlaku (cycle
law), sangat pasti bahwa manusia akan kembali kepada debu tanah; nafas hidup
yang merupakan representasi roh G-d akan kembali kepada G-d.
Alasan
Mengapa G-d
Menciptakan Manusia
Menjawab pertanyaan
“mengapa” jauh lebih sulit daripada menjawab pertayaan “apa tujuan” atau “apa
maksud”. Alasan sangat penting dijawab, karena di dalam alasan ada proses penalaran.
Oleh karena itu, alasanlah yang merepresentasi kecerdasan berpikir seseorang.
Terlebih lagi jika kita mengajukan pertanyaan: mengapa G-d menciptakan manusia?
Apakah karena G-d hanya sekadar iseng mencari-cari pekerjaan? Apakah karena G-d
senang disembah, sehingga Dia menciptakan manusia yang ditujukan untuk
menyembahNya?
Mari kita telaah
kedua jawaban sembrono tersebut. Apakah
mungkin G-d, Sang Pencipta, yang sangat cerdas, dapat dipahami kecerdasan
berpikir G-d di dalam proses penciptaan di dalam Bereishith, menciptakan manusia dengan rationale yang lemah atau bahkan tanpa rationale? Tentu tidak. Dengan demikian, jawaban pertama jelas
tidak dapat diterima.
Bagaimana dengan
jawaban kedua: G-d menciptakan manusia, karena Dia senang disembah dan dipuja?
Jawaban ini agak masuk akal, karena memang kebesaran dan keagungan G-d patut
untuk dipuja dan disembah bukan oleh G-d sendiri, melainkan oleh ciptaanNya.
Namun, jika benar G-d ingin disembah dan dipuja, mengapa Dia memberi kebebasan
kepada manusia untuk tidak menyembahNya. Bahkan Dia memberi kebebasan manusia
untuk berkeyakinan bahwa Dia tidak ada. Dengan demikian, jawaban kedua juga
salah.
Untuk menjawab
agak tepat alasan mengapa G-d menciptakan manusia kita perlu berpikir dari
perspektif G-d, dengan kata lain, kita menempatkan diri menjadi G-d, lalu kita
bisa mencoba menjawab alasan mengapa manusia diciptakan. G-d menciptakan
manusia karena G-d memiliki sifat, yakni mencipta melalui pekerjaanNya.
Sebagaimana manusia tidak menganggur, demikian pula G-d tidak pernah
menganggur; Dia bekerja melalui kekuatan dan keagunganNya sebagai pencipta
semesta. Hanya saja, yang membedakan pekerjaan G-d dengan manusia adalah
kesempurnaan. G-d bekerja dengan sangat sempurna; manusia tidak.
Tujuan
Akhir Proses Kehidupan
Sesuai dengan cycle law, manusia akan meninggal
(jasad) dan roh kembali kepada G-d yang memberikannya. Dengan demikian,
tentunya, G-d akan meminta pertanggungjawaban atas apa yang telah kita lakukan
semasa hidup. Apabila seseorang menghidupi kehidupannya semasa hidup dulu
dengan baik di mata G-d, maka G-d akan memberikanNya “hadiah”; demikian pula sebaliknya.
Jadi meninggal
dan berpulang kepada G-d adalah sebuah kepastian. Apa yang belum pasti? Kita
mendapat “hadiah” dari G-d atau sebaliknya. G-d memberi “hadiah” apabila
menurut pertimbanganNya orang tersebut, semasa hidup, melakukan segala peraturan
dan ketetapanNya. Jadi, fokus kita bukan pada bagaimana mendapat “hadiah”,
melainkan bagaimana kita sekarang, selama hidup, menghidupinya dengan bermutu
di mata G-d. Saya pikir terlalu economist
jika kita sekarang hanya berfokus pada bagaimana mendapat “hadiah” dari G-d.
Terlebih daripada itu, kita perlu memegang segala peraturan dan ketetapanNya
bukan oleh karena “hadiah” tapi oleh karena kasih (love) kita kepadaNya. Love
mungkin kata benda atau kata kerja. Bila dilihat sebagai kata benda, berarti love adalah sebuah perasaan kuat kita
untuk berpaut pada G-d. Konsekuensi logisnya, kita berusaha untuk menaati
segala peraturan dan ketetapanNya. Jika love
sebagai kata kerja, ini berarti kita harus love
G-d dengan segenap roh, jiwa, dan tubuh kita. Love inilah yang menjadi landasan seseorang menaati segala
peraturan dan ketetapan G-d. Jika manusia hidup menaati segala peraturan dan
ketetapanNya, maka manusia dapat dikatakan menghidupi kehidupannya secara
bermutu.
Manusia lahir
sampai meninggal menjalani sebuah proses relatif lama. Pada rerata, manusia
meninggal di atas tujuh puluh tahun. Oleh karena itu, bagaimana menghidupi
kehidupan selama tujuh puluh tahun dengan bermutu menjadi isu penting yang
harus dikaji.
Metoda,
Teknik, dan Prosedur yang Diperlukan di Dalam Proses Kehidupan
Bayangkan jika Saudara dalam
lima hari ke depan akan pergi ke pedalaman Kalimantan Barat, Saudara sekarang
berada di Jakarta. Berarti Saudara pertama harus menentukan alat transportasi
apa yang akan membawa Saudara sampai ke Kalimantan Barat, bagaimana menggunakan
alat tersebut (asumsi alat dikendalikan oleh Saudara sendiri), persiapan apa
saja yang perlu Saudara daftar dalam catatan pribadi Saudara, supaya Saudara
tidak mengalami kesulitan di tengah perjalanan. Itulah yang disebut dengan
metoda, teknik, dan prosedur. Mereka adalah alat atau bisa juga dikatakan
strategi, bagi orang yang terbiasa menggunakannya.
Sama halnya
dengan proses kehidupan, yang mana tujuan akhirnya adalah sampai kepada G-d,
memerlukan metoda, teknik, dan prosedur. Kita perlu menentukan alat apa dan
bagaimana menggunakannya, sehingga proses kehidupan kita efektif, dan sebagai
akibatnya G-d berkenan kepada kita.
Sistem
Keyakinan Sebagai Alat Berdaya Dalam Menjadikan Efektif Proses Kehidupan
Apa yang saya maksudkan
dengan sistem keyakinan? Sistem keyakinan adalah sebuah bangunan yang terdiri
dari komponen utama: buku pedoman dan pendukung: prinsip iman; peraturan-peraturan
dan ketetapan-ketetapan; hari raya; dan lain-lain, yang setiap komponen
tersebut saling terkait dan terhubung satu sama lain.
Sistem keyakinan
dapat secara mudah disamakan dengan agama. Penulis menggunakan istilah sistem
keyakinan alih-alih agama, karena sesungguhnya keyakinanlah menjadi landasan
tindakan manusia; baik tindakan baik maupun jahat. Seseorang dapat saja
dikatakan beragama, namun tidak membangun dan melakukan renovasi atas sistem
keyakinannya, sehingga agamanya seringkali tidak menjadi dasar bagi
tindakannya. Sebagai contoh, seseorang menganut agama Kristen, tapi suatu saat
orang tersebut datang ke paranormal untuk diramal mengenai masa depannya.
Padahal agama Kristen, yang saya tahu, tidak enabling penganutnya untuk mempercayai ramalan.
Agama
Sebagai Metoda, Teknik, Dan Prosedur
Berikut sebuah anekdot: ada
lima orang mahasiswa tinggal bersama dalam satu rumah, dan kampus mereka pun
sama. Kelima mahasiswa tersebut bernama Andi, Budi, Cecep, Dodi, dan Edo. Andi
setiap hari pergi ke kampus dengan mengendarai mobil; Budi pergi ke kampus
dengan mengendarai sepeda motor; Cecep pergi ke kampus dengan mengendarai
sepeda; Dodi pergi ke kampus dengan angkutan umum; Edo pergi ke kampus dengan
berjalan kaki. Suatu ketika Andi mengejek keempat kawannya, sambil berkata:
“alat transportasi yang paling efektif dan efisien itu naik mobil, ah kalian
semua payah, harusnya kalian semua seperti saya, punya mobil, jadi ke kampus
naik mobil, ngapain naik motor, sepeda, angkot, apalagi jalan kaki!”. Lalu Budi
menjawab: “ ah tidak, naik mobil kan ribet, paling enak naik motor, cepat,
ringkas, murah meriah. Ngapain kamu Andi naik mobil, kalo jalan macet, kan jadi
lama. Apalagi naik angkot, mesti nunggu supirnya ngetem, trus naik sepeda juga
kelamaan, apalagi jalan kaki, wah lebih lama lagi.” Perdebatan di atas
berlangsung selama dua jam tanpa ada kesepakatan, alat transportasi apakah yang
sesungguhnya paling efektif dan efisien untuk membawa mereka sampai ke kampus.
Setiap orang menganggap bahwa alat transportasi yang mereka gunakanlah yang
terbaik. Tidak ada satu pun di antara mereka yang mengakui keefektifan dan
keefisienan alat transportasi kawan lainnya.
Anekdot di atas
sama persis dengan perdebatan agama dari dulu sampai sekarang, sampai
selamanya. Setiap duta atau marketer
agama x menganggap agamanyalah metoda yang paling efektif untuk diterapkan di
dalam proses kehidupan. Agama selain x pasti salah, terlebih lagi ada sebuah
agama yang mana marketernya berani
berpromosi: “hanya dengan mempercayai Mr.Y, Anda pasti masuk surga, Anda dan
seisi rumah Anda”. Sebagai tambahan, marketer
tersebut menganggap bahwa untuk masuk surga hanya melalui percaya kepada Mr.Y,
jadi sesiapa yang tidak mempercayai Mr.Y dikutuk; masuk neraka. Keyakinan
seperti itu sangatlah tidak fair.
Apakah seseorang pembunuh yang mempercayai Mr. Y pasti masuk surga, sebaliknya
seseorang sholeh yang tidak mempercayai Mr. Y pasti masuk neraka? Sungguh tidak
adil G-d, padahal G-d kan maha Adil.
Bertolak dari
anekdot di atas, kita dapat mempelajari satu hal penting: metoda, teknik, dan
prosedur sangat mungkin berbeda antara orang yang satu dengan orang yang lain.
Oleh karena itu, sistem keyakinan bersifat individualistik. Sebuah sistem
keyakinan tidak dapat diterapkan oleh semua orang. Penulis mulai menyebut agama
semitik: Yudaisma, Kristen, dan Islam. Yudaisma merupakan sistem keyakinan yang
sangat berdaya di dalam proses kehidupan hanya bagi orang yang memahami kitab
suci Taurat, beriman pada semua yang terkandung di dalamnya, bersedia menaati
segala peraturan dan ketetapan yang termuat di dalamnya. Yudaisma tidak berdaya
jika seseorang tidak memahami kitab suci Taurat, tidak beriman pada semua yang
terkandung di dalamnya, dan terlebih lagi, ini yang paling mungkin, tidak
bersedia menaati segala peraturan dan ketetapan di dalamnya. Demikian pula
halnya dengan Kristen dan Islam.
Dengan demikian,
agama bukanlah topik perdebatan, melainkan sebuah sistem keyakinan yang
dipilih, secara sadar dan sukarela, tanpa tekanan pihak lain, untuk dibangun,
direnovasi secara berkelanjutan oleh seseorang.
Yudaisma:
Sistem Keyakinan yang Menjadikan Proses Kehidupan Bermutu
Apakah Yudaisma? Yudaisma
adalah sebuah sistem keyakinan yang mana pedomannya adalah Taurat dengan
prinsip iman (the rambam’s thirteen
principles of faith) sebagai berikut: (1) menyembah G-d dan menyampaikan
doa hanya kepadaNya, (2) meyakini bahwa Musa, …(13) dan peraturan pokok (hukum
taurat) sebagai berikut: (1) hanya menyembah G-d, (2) tidak membuat patung, (3)
tidak menyebut namaNya sembarangan, (4) menghormati dan menguduskan hari
Sabbath, (5) menghormati ayah dan ibu, (6) tidak membunuh, (7) tidak mencuri,
(8) tidak berzinah, (9) tidak mengucapkan saksi dusta, (10) tidak mengingini
kepemilikan orang lain. Kesepuluh hukum tersebut merupakan hukum garis besar
yang kurang bersifat teknis, sehingga mereka dapat dijabarkan secara rinci
menjadi peraturan-peraturan teknis (mitzvot) yang berjumlah 613.
Oleh karena semua
komponen pendukung sistem keyakinan Yudaisma berlandaskan Taurat, pembahasan berfokus
pada keberdayaan Taurat sebagai pedoman hidup yang memampukan penganutnya untuk
menghidupi kehidupan dengan bermutu agar berkenan di mata G-d.
Mengapa
Taurat?
Taurat berasal dari kata
Ibrani “tora” yang berarti hukum. Secara khusus Taurat terdiri dari lima buku:
(1) Bereishith, (2) Shemoth, (3) Bamidbar, (4) Vayiqra, dan (5) Devarim.
Bereishith menceritakan kisah awal penciptaan langit dan bumi dan manusia
sampai zaman Yusuf meninggal di negeri Mesir. Shemoth menceritakan kelahiran
Musa, keluarnya umat Israel dari Mesir, sampai umat Israel sampai di tanah
perjanjian. Bamidbar menceritakan perihal kependudukan Israel, yakni jumlah
rakyat sipil dan wajib militer. Vayiqra mengatur berbagai hukum dan
peraturan-peraturan penyembahan, penebusan dosa, dan sebagainya. Devarim sebagian
besar menceritakan kembali keluarnya umat Israel dan perjalanan hidup umat
Israel di padang gurun secara ringkas serta review
kesepuluh hukum Taurat.
Berdasarkan
kelima buku di dalam Taurat, penulis membagi Taurat menjadi dua perspektif: (1)
perspektif hukum: peraturan dan ketetapan dan (2) perspektif sejarah. Taurat
adalah hukum, karena inti Taurat adalah pembelaan G-d terhadap umat pilihanNya
dengan memberikan mereka tanah yang subur dan makmur. Hukum yang diberikan
merupakan “bekal” bagi kehidupan mereka di tanah perjanjian. Taurat adalah
sejarah, karena ia menceritakan tokoh utama turun temurun secara kronologis.
Pertama Adam, kemudian Nuh, kemudian sampai pada Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf,
Musa, pembebebasan umat Israel, dan seterusnya. Berdasarkan dua perspektif
tersebut, penulis dapat menyimpulkan dua besar keberdayaan Taurat yang darinya
penganutnya belajar bagaimana menghidupi kehidupannya dengan bermutu, sehingga
berkenan di mata G-d.
Hukum Taurat sebagai pengendalian internal atas proses
kehidupan (internal control over living
process). Pernahkah Saudara membayangkan tidak ada hukum di dalam
kehidupan ini? Manusia dilahirkan mewarisi apa yang menjadi “atribut” Adam dan
Hawa, yakni pengetahuan tentang yang baik dan jahat. Namun, karena keterpisahan
manusia pada Sang Pencipta, maka konsekuensi logisnya adalah kecenderungan hati
manusia kepada kejahatan. Oleh karena itu, hukum diperlukan di dalam kehidupan
umat manusia untuk mencegah kejahatan. Karakteristik jahat bawaan manusia dapat
difilter oleh sebuah internal control system. Tauratlah internal control system tersebut. Apa
bedanya Taurat dengan kitab lain? Taurat merupakan hukum pertama dan didiktekan
langsung oleh Sang Pencipta. Sebagai akibatnya, hukum tersebut sangat
sistematik dan lengkap. Sistematik karena hukum tersebut terdiri dari dua
bagian, yakni aturan hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta dan aturan
hubungan antara manusia dengan sesama manusia. Hubungan manusia dengan sesama
manusia menjadi lebih baik apabila setiap pribadi memiliki internal control yang baik. Internal
control yang baik merupakan buah hubungan pribadi antaran manusia dengan
Sang Pencipta. Lengkap, karena sepuluh hukum taurat hanya overview yang sesungguhnya
dibagi lagi menjadi ratusan hukum yang bersifat teknis dan terinci. Bukan hanya
itu, kitab tersebut mengatur bagaimana cara yang paling efektif untuk
melaksanakan aturan tersebut.
Kisah tokoh-tokoh di dalam Taurat merupakan bahan
pembelajaran bagi penganutnya. Taurat menceritakan juga kisah-kisah kehidupan umat
manusia baik yang brengsek maupun yang baik dan benar. Setiap perbuatan baik
dan jahat menghasilkan konsekuensi, bisa hukuman atau berkat. Dengan demikian,
perenung Taurat dapat belajar darinya bagaimana sekarang menjalani kehidupan
mereka.
Penutup
Tulisan ini ditujukan kepada
dua golongan: (1) umat agama apapun selain Yudaisma dan (2) khusus bagi
penganut Yudaisma. Bagi umat penganut selain Yudaisma tulisan ini hanya sampai
pada subjudul agama sebagai metoda, teknik, dan prosedur. Mengapa demikian?
Karena saya tidak ingin berpromosi atau berdakwah atau mengajak atau membujuk
atau memengaruhi atau mengunggulkan Yudaisma. Bagi penganut Yudaisma saya
memberikan tulisan ini dari awal sampai akhir agar mereka dapat terinspirasi
dan mereka pun memberikan saran perbaikan kepada penulis mengenai kekurangan
tulisan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar