Sabtu, 01 Maret 2014

HOW TO LIVE A DECENT LIFE
Oleh: Virdy
Pendahuluan
Pernahkah Saudara bertanya pada diri Saudara sendiri: apa tujuan Saudara hidup? Mungkin Saudara menjawab: untuk memperoleh keberhasilan dalam segala aspek kehidupan. Sebagai contoh, apabila seorang mahasiswa, jawaban konkretnya adalah untuk segera lulus dari fakultas dengan nilai cumlaude, setelah itu mendapatkan pekerjaan bergengsi (dignified), yang pada akhirnya mendatangkan kemakmuran (prosperity). Tujuan tersebut adalah tujuan di dalam proses kehidupan, berbeda ketika Saudara berpikir lebih dalam mengenai apa tujuan paling akhir (ultimate) kehidupan ini. Jawabannya takterbantahkan (undisputable), yakni kematian jasmani dan kembalinya roh kepada Sang Pencipta.
Sekarang kita menyadari tujuan paling akhir kita adalah untuk berpulang kepada Sang Pencipta, timbullah pertanyaan yang penting untuk dijawab: apa yang harus kita lakukan selama proses kehidupan—kehidupan jasmani? Terlebih penting lagi bagaimana kita melakukannya?
Cycle Law
Di dalam proses kehidupan, sejak zaman Adam sampai detik ini, berlaku aturan dasar, yakni segala sesuatu di dalam dunia ini akan kembali lagi ke asalnya. X akan kembali menjadi X, juga X dari satu titik, misal titik A, akan kembali lagi ke titik A. Sebagai contoh, air laut diserap oleh awan, singkat proses, terjadilah hujan, yang kemudian kembali lagi memenuhi laut. Demikian seterusnya tanpa henti, sampai terjadi kesudahannya. Contoh lain, satu hari dimulai dari petang kemudian di akhiri petang berikutnya (menurut kitab Taurat). Matahari terbit, kemudian matahari terbenam, demikian terus tiada berkesudahan.
Manusia dibentuk oleh Sang Pencipta oleh material debu tanah (pembentuk jasmani), debu tanah tersebut masih mati, lalu Sang Pencipta menjadikannya makhluk hidup dengan memberi nafas hidup di dalam hidungnya (nostril). Sesuai dengan aturan dasar yang berlaku (cycle law), sangat pasti bahwa manusia akan kembali kepada debu tanah; nafas hidup yang merupakan representasi roh G-d akan kembali kepada G-d.
Alasan Mengapa G-d Menciptakan Manusia
Menjawab pertanyaan “mengapa” jauh lebih sulit daripada menjawab pertayaan “apa tujuan” atau “apa maksud”. Alasan sangat penting dijawab, karena di dalam alasan ada proses penalaran. Oleh karena itu, alasanlah yang merepresentasi kecerdasan berpikir seseorang. Terlebih lagi jika kita mengajukan pertanyaan: mengapa G-d menciptakan manusia? Apakah karena G-d hanya sekadar iseng mencari-cari pekerjaan? Apakah karena G-d senang disembah, sehingga Dia menciptakan manusia yang ditujukan untuk menyembahNya?
Mari kita telaah kedua jawaban sembrono tersebut. Apakah mungkin G-d, Sang Pencipta, yang sangat cerdas, dapat dipahami kecerdasan berpikir G-d di dalam proses penciptaan di dalam Bereishith, menciptakan manusia dengan rationale yang lemah atau bahkan tanpa rationale? Tentu tidak. Dengan demikian, jawaban pertama jelas tidak dapat diterima.
Bagaimana dengan jawaban kedua: G-d menciptakan manusia, karena Dia senang disembah dan dipuja? Jawaban ini agak masuk akal, karena memang kebesaran dan keagungan G-d patut untuk dipuja dan disembah bukan oleh G-d sendiri, melainkan oleh ciptaanNya. Namun, jika benar G-d ingin disembah dan dipuja, mengapa Dia memberi kebebasan kepada manusia untuk tidak menyembahNya. Bahkan Dia memberi kebebasan manusia untuk berkeyakinan bahwa Dia tidak ada. Dengan demikian, jawaban kedua juga salah.
Untuk menjawab agak tepat alasan mengapa G-d menciptakan manusia kita perlu berpikir dari perspektif G-d, dengan kata lain, kita menempatkan diri menjadi G-d, lalu kita bisa mencoba menjawab alasan mengapa manusia diciptakan. G-d menciptakan manusia karena G-d memiliki sifat, yakni mencipta melalui pekerjaanNya. Sebagaimana manusia tidak menganggur, demikian pula G-d tidak pernah menganggur; Dia bekerja melalui kekuatan dan keagunganNya sebagai pencipta semesta. Hanya saja, yang membedakan pekerjaan G-d dengan manusia adalah kesempurnaan. G-d bekerja dengan sangat sempurna; manusia tidak.
Tujuan Akhir Proses Kehidupan
Sesuai dengan cycle law, manusia akan meninggal (jasad) dan roh kembali kepada G-d yang memberikannya. Dengan demikian, tentunya, G-d akan meminta pertanggungjawaban atas apa yang telah kita lakukan semasa hidup. Apabila seseorang menghidupi kehidupannya semasa hidup dulu dengan baik di mata G-d, maka G-d akan memberikanNya “hadiah”; demikian pula sebaliknya.
Jadi meninggal dan berpulang kepada G-d adalah sebuah kepastian. Apa yang belum pasti? Kita mendapat “hadiah” dari G-d atau sebaliknya. G-d memberi “hadiah” apabila menurut pertimbanganNya orang tersebut, semasa hidup, melakukan segala peraturan dan ketetapanNya. Jadi, fokus kita bukan pada bagaimana mendapat “hadiah”, melainkan bagaimana kita sekarang, selama hidup, menghidupinya dengan bermutu di mata G-d. Saya pikir terlalu economist jika kita sekarang hanya berfokus pada bagaimana mendapat “hadiah” dari G-d. Terlebih daripada itu, kita perlu memegang segala peraturan dan ketetapanNya bukan oleh karena “hadiah” tapi oleh karena kasih (love) kita kepadaNya. Love mungkin kata benda atau kata kerja. Bila dilihat sebagai kata benda, berarti love adalah sebuah perasaan kuat kita untuk berpaut pada G-d. Konsekuensi logisnya, kita berusaha untuk menaati segala peraturan dan ketetapanNya. Jika love sebagai kata kerja, ini berarti kita harus love G-d dengan segenap roh, jiwa, dan tubuh kita. Love inilah yang menjadi landasan seseorang menaati segala peraturan dan ketetapan G-d. Jika manusia hidup menaati segala peraturan dan ketetapanNya, maka manusia dapat dikatakan menghidupi kehidupannya secara bermutu.
Manusia lahir sampai meninggal menjalani sebuah proses relatif lama. Pada rerata, manusia meninggal di atas tujuh puluh tahun. Oleh karena itu, bagaimana menghidupi kehidupan selama tujuh puluh tahun dengan bermutu menjadi isu penting yang harus dikaji.
Metoda, Teknik, dan Prosedur yang Diperlukan di Dalam Proses Kehidupan
Bayangkan jika Saudara dalam lima hari ke depan akan pergi ke pedalaman Kalimantan Barat, Saudara sekarang berada di Jakarta. Berarti Saudara pertama harus menentukan alat transportasi apa yang akan membawa Saudara sampai ke Kalimantan Barat, bagaimana menggunakan alat tersebut (asumsi alat dikendalikan oleh Saudara sendiri), persiapan apa saja yang perlu Saudara daftar dalam catatan pribadi Saudara, supaya Saudara tidak mengalami kesulitan di tengah perjalanan. Itulah yang disebut dengan metoda, teknik, dan prosedur. Mereka adalah alat atau bisa juga dikatakan strategi, bagi orang yang terbiasa menggunakannya.
Sama halnya dengan proses kehidupan, yang mana tujuan akhirnya adalah sampai kepada G-d, memerlukan metoda, teknik, dan prosedur. Kita perlu menentukan alat apa dan bagaimana menggunakannya, sehingga proses kehidupan kita efektif, dan sebagai akibatnya G-d berkenan kepada kita.
Sistem Keyakinan Sebagai Alat Berdaya Dalam Menjadikan Efektif Proses Kehidupan
Apa yang saya maksudkan dengan sistem keyakinan? Sistem keyakinan adalah sebuah bangunan yang terdiri dari komponen utama: buku pedoman dan pendukung: prinsip iman; peraturan-peraturan dan ketetapan-ketetapan; hari raya; dan lain-lain, yang setiap komponen tersebut saling terkait dan terhubung satu sama lain.
Sistem keyakinan dapat secara mudah disamakan dengan agama. Penulis menggunakan istilah sistem keyakinan alih-alih agama, karena sesungguhnya keyakinanlah menjadi landasan tindakan manusia; baik tindakan baik maupun jahat. Seseorang dapat saja dikatakan beragama, namun tidak membangun dan melakukan renovasi atas sistem keyakinannya, sehingga agamanya seringkali tidak menjadi dasar bagi tindakannya. Sebagai contoh, seseorang menganut agama Kristen, tapi suatu saat orang tersebut datang ke paranormal untuk diramal mengenai masa depannya. Padahal agama Kristen, yang saya tahu, tidak enabling penganutnya untuk mempercayai ramalan.
Agama Sebagai Metoda, Teknik, Dan Prosedur
Berikut sebuah anekdot: ada lima orang mahasiswa tinggal bersama dalam satu rumah, dan kampus mereka pun sama. Kelima mahasiswa tersebut bernama Andi, Budi, Cecep, Dodi, dan Edo. Andi setiap hari pergi ke kampus dengan mengendarai mobil; Budi pergi ke kampus dengan mengendarai sepeda motor; Cecep pergi ke kampus dengan mengendarai sepeda; Dodi pergi ke kampus dengan angkutan umum; Edo pergi ke kampus dengan berjalan kaki. Suatu ketika Andi mengejek keempat kawannya, sambil berkata: “alat transportasi yang paling efektif dan efisien itu naik mobil, ah kalian semua payah, harusnya kalian semua seperti saya, punya mobil, jadi ke kampus naik mobil, ngapain naik motor, sepeda, angkot, apalagi jalan kaki!”. Lalu Budi menjawab: “ ah tidak, naik mobil kan ribet, paling enak naik motor, cepat, ringkas, murah meriah. Ngapain kamu Andi naik mobil, kalo jalan macet, kan jadi lama. Apalagi naik angkot, mesti nunggu supirnya ngetem, trus naik sepeda juga kelamaan, apalagi jalan kaki, wah lebih lama lagi.” Perdebatan di atas berlangsung selama dua jam tanpa ada kesepakatan, alat transportasi apakah yang sesungguhnya paling efektif dan efisien untuk membawa mereka sampai ke kampus. Setiap orang menganggap bahwa alat transportasi yang mereka gunakanlah yang terbaik. Tidak ada satu pun di antara mereka yang mengakui keefektifan dan keefisienan alat transportasi kawan lainnya.
Anekdot di atas sama persis dengan perdebatan agama dari dulu sampai sekarang, sampai selamanya. Setiap duta atau marketer agama x menganggap agamanyalah metoda yang paling efektif untuk diterapkan di dalam proses kehidupan. Agama selain x pasti salah, terlebih lagi ada sebuah agama yang mana marketernya berani berpromosi: “hanya dengan mempercayai Mr.Y, Anda pasti masuk surga, Anda dan seisi rumah Anda”. Sebagai tambahan, marketer tersebut menganggap bahwa untuk masuk surga hanya melalui percaya kepada Mr.Y, jadi sesiapa yang tidak mempercayai Mr.Y dikutuk; masuk neraka. Keyakinan seperti itu sangatlah tidak fair. Apakah seseorang pembunuh yang mempercayai Mr. Y pasti masuk surga, sebaliknya seseorang sholeh yang tidak mempercayai Mr. Y pasti masuk neraka? Sungguh tidak adil G-d, padahal G-d kan maha Adil.
Bertolak dari anekdot di atas, kita dapat mempelajari satu hal penting: metoda, teknik, dan prosedur sangat mungkin berbeda antara orang yang satu dengan orang yang lain. Oleh karena itu, sistem keyakinan bersifat individualistik. Sebuah sistem keyakinan tidak dapat diterapkan oleh semua orang. Penulis mulai menyebut agama semitik: Yudaisma, Kristen, dan Islam. Yudaisma merupakan sistem keyakinan yang sangat berdaya di dalam proses kehidupan hanya bagi orang yang memahami kitab suci Taurat, beriman pada semua yang terkandung di dalamnya, bersedia menaati segala peraturan dan ketetapan yang termuat di dalamnya. Yudaisma tidak berdaya jika seseorang tidak memahami kitab suci Taurat, tidak beriman pada semua yang terkandung di dalamnya, dan terlebih lagi, ini yang paling mungkin, tidak bersedia menaati segala peraturan dan ketetapan di dalamnya. Demikian pula halnya dengan Kristen dan Islam.
Dengan demikian, agama bukanlah topik perdebatan, melainkan sebuah sistem keyakinan yang dipilih, secara sadar dan sukarela, tanpa tekanan pihak lain, untuk dibangun, direnovasi secara berkelanjutan oleh seseorang.
Yudaisma: Sistem Keyakinan yang Menjadikan Proses Kehidupan Bermutu
Apakah Yudaisma? Yudaisma adalah sebuah sistem keyakinan yang mana pedomannya adalah Taurat dengan prinsip iman (the rambam’s thirteen principles of faith) sebagai berikut: (1) menyembah G-d dan menyampaikan doa hanya kepadaNya, (2) meyakini bahwa Musa, …(13) dan peraturan pokok (hukum taurat) sebagai berikut: (1) hanya menyembah G-d, (2) tidak membuat patung, (3) tidak menyebut namaNya sembarangan, (4) menghormati dan menguduskan hari Sabbath, (5) menghormati ayah dan ibu, (6) tidak membunuh, (7) tidak mencuri, (8) tidak berzinah, (9) tidak mengucapkan saksi dusta, (10) tidak mengingini kepemilikan orang lain. Kesepuluh hukum tersebut merupakan hukum garis besar yang kurang bersifat teknis, sehingga mereka dapat dijabarkan secara rinci menjadi peraturan-peraturan teknis (mitzvot) yang berjumlah 613.
Oleh karena semua komponen pendukung sistem keyakinan Yudaisma berlandaskan Taurat, pembahasan berfokus pada keberdayaan Taurat sebagai pedoman hidup yang memampukan penganutnya untuk menghidupi kehidupan dengan bermutu agar berkenan di mata G-d.
Mengapa Taurat?
Taurat berasal dari kata Ibrani “tora” yang berarti hukum. Secara khusus Taurat terdiri dari lima buku: (1) Bereishith, (2) Shemoth, (3) Bamidbar, (4) Vayiqra, dan (5) Devarim. Bereishith menceritakan kisah awal penciptaan langit dan bumi dan manusia sampai zaman Yusuf meninggal di negeri Mesir. Shemoth menceritakan kelahiran Musa, keluarnya umat Israel dari Mesir, sampai umat Israel sampai di tanah perjanjian. Bamidbar menceritakan perihal kependudukan Israel, yakni jumlah rakyat sipil dan wajib militer. Vayiqra mengatur berbagai hukum dan peraturan-peraturan penyembahan, penebusan dosa, dan sebagainya. Devarim sebagian besar menceritakan kembali keluarnya umat Israel dan perjalanan hidup umat Israel di padang gurun secara ringkas serta review kesepuluh hukum Taurat.
Berdasarkan kelima buku di dalam Taurat, penulis membagi Taurat menjadi dua perspektif: (1) perspektif hukum: peraturan dan ketetapan dan (2) perspektif sejarah. Taurat adalah hukum, karena inti Taurat adalah pembelaan G-d terhadap umat pilihanNya dengan memberikan mereka tanah yang subur dan makmur. Hukum yang diberikan merupakan “bekal” bagi kehidupan mereka di tanah perjanjian. Taurat adalah sejarah, karena ia menceritakan tokoh utama turun temurun secara kronologis. Pertama Adam, kemudian Nuh, kemudian sampai pada Abraham, Ishak, Yakub, Yusuf, Musa, pembebebasan umat Israel, dan seterusnya. Berdasarkan dua perspektif tersebut, penulis dapat menyimpulkan dua besar keberdayaan Taurat yang darinya penganutnya belajar bagaimana menghidupi kehidupannya dengan bermutu, sehingga berkenan di mata G-d.
Hukum Taurat sebagai pengendalian internal atas proses kehidupan (internal control over living process). Pernahkah Saudara membayangkan tidak ada hukum di dalam kehidupan ini? Manusia dilahirkan mewarisi apa yang menjadi “atribut” Adam dan Hawa, yakni pengetahuan tentang yang baik dan jahat. Namun, karena keterpisahan manusia pada Sang Pencipta, maka konsekuensi logisnya adalah kecenderungan hati manusia kepada kejahatan. Oleh karena itu, hukum diperlukan di dalam kehidupan umat manusia untuk mencegah kejahatan. Karakteristik jahat bawaan manusia dapat difilter oleh sebuah internal control system. Tauratlah internal control system tersebut. Apa bedanya Taurat dengan kitab lain? Taurat merupakan hukum pertama dan didiktekan langsung oleh Sang Pencipta. Sebagai akibatnya, hukum tersebut sangat sistematik dan lengkap. Sistematik karena hukum tersebut terdiri dari dua bagian, yakni aturan hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta dan aturan hubungan antara manusia dengan sesama manusia. Hubungan manusia dengan sesama manusia menjadi lebih baik apabila setiap pribadi memiliki internal control yang baik. Internal control yang baik merupakan buah hubungan pribadi antaran manusia dengan Sang Pencipta. Lengkap, karena sepuluh hukum taurat hanya overview yang sesungguhnya dibagi lagi menjadi ratusan hukum yang bersifat teknis dan terinci. Bukan hanya itu, kitab tersebut mengatur bagaimana cara yang paling efektif untuk melaksanakan aturan tersebut.
Kisah tokoh-tokoh di dalam Taurat merupakan bahan pembelajaran bagi penganutnya. Taurat menceritakan juga kisah-kisah kehidupan umat manusia baik yang brengsek maupun yang baik dan benar. Setiap perbuatan baik dan jahat menghasilkan konsekuensi, bisa hukuman atau berkat. Dengan demikian, perenung Taurat dapat belajar darinya bagaimana sekarang menjalani kehidupan mereka.
Penutup

Tulisan ini ditujukan kepada dua golongan: (1) umat agama apapun selain Yudaisma dan (2) khusus bagi penganut Yudaisma. Bagi umat penganut selain Yudaisma tulisan ini hanya sampai pada subjudul agama sebagai metoda, teknik, dan prosedur. Mengapa demikian? Karena saya tidak ingin berpromosi atau berdakwah atau mengajak atau membujuk atau memengaruhi atau mengunggulkan Yudaisma. Bagi penganut Yudaisma saya memberikan tulisan ini dari awal sampai akhir agar mereka dapat terinspirasi dan mereka pun memberikan saran perbaikan kepada penulis mengenai kekurangan tulisan ini.

Tidak ada komentar: